WEDOMARTANI-Ada histori panjang tentang Kalurahan Wedomartani. Pemerintahan sebelumnya berbentuk Kademangan di bawah Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kademangan pertama adalah Karang Pakis yang dipimpin oleh Demang Malang Jiwo. Kademangan ini kemudian menjadi Kalurahan Lama Krapyak. Bangunan peninggalan yang hingga kini masih berdiri kokoh adalah Balai Desa Krapyak yang berbentuk bangunan joglo merupakan peninggalan dari Sri Sultan Hamengkubuwono ke-VII.

Diikuti dengan berdirinya kalurahan lain yang ada pada saat itu dengan rata-rata membawahi 5-6 padukuhan/bayan. Wedomartani sendiri terdiri dari empat kalurahan lama yakni: Pertama, Kalurahan Lama Babadan dipimpin seorang Lurah bernama Pawiro Suprapto yang membawahi wilayah Padukuhan Gedongan Lor, Sawahan Lor, Sawahan Kidul, Demangan, Tonggalan, Saren dan xix Babadan. Kedua, Kalurahan Lama Pokoh dipimpin Lurah Pawiro Geno yang membawahi wilayah Padukuhan Pokoh, Wonosari, Gondang Legi, Pucanganom dan Sempu. Ketiga, Kalurahan Gedongan dipimpin oleh Lurah Sastro Martoyo yang membawahi wilayah Padukuhan Kenayan, Kregan, Malangrejo, Tegalsari, Karangsari dan Blotan. Keempat, Kalurahan Krapyak dipimpin oleh Lurah Jasmani Sastro Wignyo yang membawahi wilayah Padukuhan Jetis, Karanganyar, Ceper, Krandon, Krapyak, Bakungan dan Krajan.


Pada 9 November 1947 keempat kalurahan tersebut bergabung menjadi satu yang diberi nama Kalurahan Wedomartani. Bertepatan pada tahun tersebut Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono ke IX melakukan modernisasi birokrasi pemerintahan Yogyakarta. Modernisasi ini meliputi pemerintah propinsi, kabupaten, kapanewon dan pemerintah kalurahan. Maka perubahan birokrasi patrimonial menjadi birokrasi modern membutuhkan dana yang cukup banyak dan pada saat itu kasultanan belum mampu membiayai kebutuhan dana untuk membayar gaji pegawai. Oleh karena itu pegawai pemerintahan kalurahan tidak digaji dengan uang akan tetapi dengan tanah kas desa (pelungguh).

Dikarenakan banyak kalurahan yang hanya memiliki tanah kas desa yang sedikit, maka untuk mencukupi kebutuhan pegawai/pamong, Sri Sultan Hamengkubuwono IX mengadakan penggabungan kalurahan-kalurahan tersebut. Penggabungan Kalurahan yang diistilahkan xx blengketan yang dilakukan di Kabupaten Sleman semula terdiri dari 262 kalurahan menjadi 86 kalurahan/desa. Hasil penggabungan ini kemudian dikukuhkan dengan Maklumat Sultan Nomor 5 Tahun 1948 tanggal 19 April 1948.

Wedomartani merupakan salah satu dari 86 kalurahan tersebut, dipimpin oleh Lurah pertama Bapak Jasmani Sastro Wignyo (sebelumnya Lurah Krapyak) dan berkantor di Pokoh, Wedomartani, Ngemplak, Sleman. Hingga saat ini Pemerintah Kalurahan Wedomartani selalu memperingati berdirinya tiap tanggal 9 November karena berdasarkan awal bergabungnya sebelum resmi ditetapkan. Dari kilas sejarah blengketan yang menjadikan kalurahan gabungan yaitu Kalurahan Wedomartani, berarti kini Wedomartani telah berusia 78 tahun. Para tokoh dan pelaku sejarah serta para pejabat dan mantan pejabat pada tahun 2018 pernah bermusyawarah dan merumuskan tentang arti, makna dan harapan kepada Wedomartani. Setelah melalui musyawarah panjang dengan berbagai kajian dan referensi masing-masing