1. Mapati
Upacara adat dan tradisi Mapati dilaksanakan saat usia kandungan memasuki bulan keempat sebagai bentuk memohon keselamatan dan kesejahteraan bagi ibu hamil dan bayi yang dikandung, serta sebagai ungkapan rasa syukur atas karunia kehamilan. Upacara ini dilaksanakan dan dilestarikan oleh sebagian besar masyarakat di 25 Padukuhan.

2. Mitoni
Upacara adat dan tradisi Mitoni dilakukan saat usia kehamilan memasuki usia tujuh bulan, terutama pada kehamilan anak pertama. Tradisi ini bertujuan untuk memohon keselamatan dan kelancaran bagi ibu dan bayi yang dikandung serta bertujuan untuk memohon kelancaran proses persalinan. Masyarakat meyakini bahwa pada usia kehamilan tujuh bulan janin sudah terbentuk sempurna dan memerlukan perlindungan lebih lanjut. Upacara ini dilaksanakan dan dilestarikan oleh sebagian besar masyarakat di 25 Padukuhan.

3. Mendhem ari-ari
Upacara adat dan tradisi Mendhem Ari-Ari adalah tradisi masyarakat yang dilaksanakan dengan prosesi melibatkan penguburan ari-ari (plasenta) bayi yang baru lahir. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan memiliki makna simbolik serta kepercayaan tertentu terhadap ari-ari dan bayi. Upacara ini dilaksanakan dan dilestarikan oleh masyarakat di 25 Padukuhan di Kalurahan Wedomartani.

4. Brokohan
Upacara adat dan tradisi Brokohan dilaksanakan untuk menyambut kelahiran bayi. Kata “brokohan” berasal dari bahasa Arab “barokah” yang berarti berkah. Upacara ini merupakan ungkapan rasa syukur atas kelahiran bayi dan permohonan keberkahan, keselamatan, dan perlindungan untuk kehidupan bayi. Upacara ini dilaksanakan dan
dilestarikan oleh masyarakat di 25 Padukuhan.

5. Sepasaran
Upacara adat dan tradisi Sepasaran merupakan kegiatan yang dilakukan pada hari kelima setelah kelahiran bayi. Kegiatan ini bertujuan untuk memohon keselamatan dan berkah bagi bayi yang baru lahir, serta sebagai ajang untuk memperkenalkan nama bayi kepada keluarga dan kerabat dekat. Upacara ini dilaksanakan dan dilestarikan oleh
sebagian besar masyarakat di 25 Padukuhan.

6. Puputan
Upacara adat dan tradisi Puputan merupakan kegiatan yang dilakukan ketika tali pusar yang menempel pada perut bayi sudah putus. Kegiatan ini bertujuan sebagai ungkapan rasa syukur dan kebahagiaan atas kelahiran bayi, serta permohonan doa agar bayi selalu diberi keselamatan dan kesehatan. Biasanya, upacara puputan diadakan setelah
tali pusar bayi lepas, yang umumnya terjadi pada usia 5, 7, atau 12 hari setelah kelahiran. Upacara ini dilaksanakan dan dilestarikan oleh sebagian besar masyarakat di 25 Padukuhan.

7. Aqiqah
Upacara adat dan tradisi Aqiqah ditandai dengan kegiatan penyembelihan hewan (biasanya kambing atau domba) sebagai ungkapan syukur atas kelahiran seorang anak, yang dilakukan pada hari ke-7 setelah kelahiran atau pada hari ke-14 atau ke-21. Selain penyembelihan, aqiqah juga melibatkan pencukuran rambut bayi dan pemberian nama. Hewan yang disembelih biasanya adalah kambing atau domba. Untuk anak laki-laki, disunnahkan untuk menyembelih dua ekor, sedangkan untuk anak perempuan satu ekor. Setelah hewan disembelih, dagingnya
dibagikan kepada keluarga, kerabat, tetangga, dan orang-orang yang membutuhkan. Rambut bayi juga dicukur, dan biasanya disunnahkan untuk menaburkan sesuatu yang manis di mulut bayi saat dicukur. Upacara ini dilaksanakan
dan dilestarikan oleh masyarakat di 25 Padukuhan.

8. Selapanan
Upacara adat dan tradisi Selapanan bayi adalah tradisi turun temurun yang dirayakan ketika seorang bayi berusia 35 hari. Kegiatan ini merupakan bentuk syukur atas kelahiran bayi dan doa agar bayi tumbuh sehat, kuat, dan selamat. Upacara selapanan biasanya meliputi pemotongan rambut bayi dan pemotongan kuku, serta kenduri atau selamatan dengan hidangan makanan untuk dibagikan kepada keluarga dan tetangga. Upacara ini dilaksanakan dan dilestarikan oleh masyarakat di 25 Padukuhan.

9. Tedak Siten
Upacara adat dan tradisi Tedak Siten merupakan tradisi masyarakat yang dilakukan untuk anak/bayi yang berusia sekitar tujuh bulan atau delapan bulan, ketika mereka mulai belajar berjalan. Kegiatan ini sebagai bentuk penghormatan kepada bumi dan sebagai simbol harapan agar anak kelak menjadi pribadi yang baik, mandiri, dan sukses. Dengan harapan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, berbakti kepada
orang tua, negara, dan agama, serta sukses dalam hidup. Upacara ini dilaksanakan dan dilestarikan oleh sebagian kecil masyarakat di 25 Padukuhan.

10. Wetonan
Upacara adat dan tradisi Wetonan merupakan upacara perayaan hari kelahiran seseorang berdasarkan kalender Jawa (perpaduan antara kalender Masehi dan Jawa). Kegiatan ini biasanya dilakukan setiap 35 hari sekali (selapan) dan bertujuan untuk mensyukuri kelahiran, memohon keselamatan, dan keberkahan bagi individu yang dirayakan, serta mempererat tali silaturahmi antar keluarga dan masyarakat. Upacara ini dilaksanakan dan dilestarikan oleh sebagian besar masyarakat di 25 Padukuhan.