1. Pasang Bleketepe
Upacara adat dan tradisi Pasang Bleketepe merupakan kegiatan memasang anyaman daun kelapa muda yang disebut bleketepe di sekitar area pernikahan. Hal tersebut merupakan simbol dimulainya prosesi pernikahan dan memiliki makna mendalam, termasuk upaya untuk menyucikan diri dan lokasi pernikahan, serta permohonan agar acara berjalan lancar dan terbebas dari hal-hal buruk. Upacara ini dilaksanakan dan dilestarikan oleh sebagian besar masyarakat di 25 Padukuhan.

2. Siraman
Upacara adat dan tradisi Siraman adalah bagian dari rangkaian adat pernikahan, dilakukan sebelum prosesi akad nikah. Upacara ini melibatkan pemandian calon pengantin dengan air yang dicampur kembang setaman (bunga-bunga harum) dan berbagai perlengkapan lain, dengan tujuan membersihkan diri secara lahir dan batin. Kegiatan ini bertujuan agar kedua calon pengantin memasuki kehidupan pernikahan dalam keadaan suci lahir dan batin. Siraman juga merupakan bentuk doa dan permohonan agar kedua mempelai diberikan keberkahan, keselamatan, dan kebahagiaan dalam menjalani rumah tangga. Upacara ini dilaksanakan dan dilestarikan oleh sebagian besar masyarakat di 25 Padukuhan.

3. Midodareni
Upacara adat dan tradisi Midodareni berasal dari bahasa Jawa “widodari” yang berarti bidadari merupakan salah satu rangkaian upacara adat dalam pernikahan yang dilakukan pada malam sebelum hari pernikahan. Upacara ini dipercaya sebagai malam turunnya bidadari untuk memberikan kesempurnaan dan kecantikan pada calon pengantin wanita. Upacara ini bertujuan untuk mempersiapkan calon pengantin wanita secara fisik, emosional, dan spiritual menjelang pernikahannya. Upacara ini dilaksanakan dan dilestarikan oleh sebagian besar masyarakat di 25 Padukuhan.