Padukuhan Ceper secara administratif termasuk wilayah Kalurahan Wedomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dahulu Padukuhan Ceper termasuk wilayah Kalurahan Krapyak. Pada tahun 1948 sejumlah empat kalurahan, yakni Kalurahan Krapyak, Kalurahan Gedongan, Kalurahan Pokoh, dan Kalurahan Babadan dilebur menjadi satu, dinamakan Kalurahan Wedomartani.
Jambu Lara Dhenok
Rois (Rohaniwan Islam) Padukuhan Ceper, Abdul Azis (94) mengisahkan, Raja Kasultanan Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono VIII yang bertahta di Keraton Yogyakarta (1921–1939), sedang sakit. Beliau tidak berselera makan. Tidak mau makan dan minum. Karena, setiap kali menelan makanan, saat berikutnya langsung muntah. Lambungnya tidak mau menerima makanan berupa dami kinukus (nasi dari beras yang telah ditanak).
Menurut pengalaman si juru-dang, abdi dalem keraton yang bertugas memasak nasi dengan dandang atau disebut juga tukang adang, hal itu bisa diatasi dengan makan gethuk dan singkong rebus terlebih dahulu. Setelah itu, baru makan nasi, pasti tidak akan muntah.
Sultan pun mencobanya. Ternyata pengalaman si juru-dang tidak berlaku bagi Sultan. Meskipun sudah makan gethuk yang terbuat dari singkong rebus diberi pemanis gula Jawa (gula merah), beliau tetap saja muntah setelah makan.
Sultan mengira penyakitnya sebagai akibat kuwalat setelah merombak bangunan Bangsal Pagelaran, Tratag Siti Hinggil, Gerbang Danapratapa, dan Masjid Gedhe Kauman.
Namun, kemudian Sultan dirundung sakit. Keadaan Sultan dari hari ke hari semakin memburuk. Sultan HB VIII pun segera dilarikan ke Rumah Sakit Onder de Bogen (sekarang RS Panti Rapih).
Beberapa hari dirawat di rumah sakit, belum ada kemajuan. Suatu malam menjelang dini hari, Sultan bermimpi bertemu dengan orang tua yang rambut dan jenggotnya putih. Pakaiannya pun serba putih. Orang tua itu berkata, “Sakitmu bisa sembuh, asalkan kau bisa mendapatkan jambu Lara Dhenok. Ciri-cirinya seperti buah jipang, lonjong, berkulit kehijauan, daging buahnya berwarna kuning. Kalau sudah matang berwarna merah. Rasanya manis.”
Sultan kemudian memerintahkan kedua abdi yang menjaganya, untuk mencarikan buah tersebut. Mereka berkuda ke arah selatan. Setiba di tugu Golong Gilig, mereka berpencar. Suwitapraja ke arah timur-laut, Nayataruna ke barat.
Suwitapraja menemukan jambu Lara Dhenok di pekarangan atau halaman rumah Kademangan Krapyak. Dahulu tempat tersebut hutan belukar, tempat Sultan berburu kijang. Di hutan ini banyak sekali kijang dan rusa. Maka hutan ini dijadikan tempat perburuan, selanjutnya disebut Krapyak.
“Pohon jambu Lara Dhenok di pekarangan Kademangan Krapyak itu cukup banyak jumlahnya. Daunnya rimbun, buahnya bergelantungan. Suwitapraja segera menemui Demang Malangjiwa selaku Kepala Desanya. Meminta buah jambu Lara Dhenok, sebagai sarana pengobatan Sultan yang sedang sakit. Demang Malangjiwa mempersilakan utusan Sultan memetik buah yang dibutuhkan. Suwitapraja memetik tiga buah jambu Lara Dhenok yang sudah masak pohon,” tutur Abdul Aziz.
Demang Malangjiwa, lanjut Abdul Aziz, kemudian menyerahkan sebuah ceper (lepek, cawan) porselin warna hijau lumut. Ukurannya hampir sebesar piring. Ceper tersebut dipergunakan untuk tempat buah jambu yang akan dipersembahkan kepada Sultan. Kemudian, ceper berisi jambu itu dibungkus kain putih, ditalikan bagian atasnya, sehingga mudah membawanya.
Suwitapraja berpesan agar Demang Malangjiwa nyengker (memasang pagar keliling tempat yang ditumbuhi pohon jambu Lara Dhenok). Tujuannya, agar apabila sewaktu-waktu Sultan membutuhkan, tinggal mengambil atau memetiknya.
Usai memakan jambu Lara Dhenok, Sultan HB VIII seketika sembuh dari sakitnya. Makan nasi sudah tidak muntah lagi. Sungguh luar biasa khasiat jambu Lara Dhenok itu. Berarti mimpi Sultan beberapa waktu lalu, termasuk impen daradasih (ndaradasihi). Mimpi yang benar-benar menjadi kenyataan.
Ceper dari porselin seperti yang dipersembahkan Demang Malangjiwa kepada Sultan, pada era 1930-an merupakan barang langka. Barang mahal. Barang yang sangat bernilai. Jarang rakyat memiliki benda seperti itu. Hanya orang-orang tertentu. Biasanya orang kaya atau pedagang. Demang Malangjiwa menyerahkan dengan rasa ikhlas. Sepi ing pamrih.
Sultan Hamengku Buwono VIII sangat menghargai persembahan Demang Malangjiwa itu. Bahkan berkenan menghadiahkan ceper dari porselin pula kepada Demang Malangjiwa. Warnanya putih, berhiasan gambar burung merak yang telah distilisasi (digayakan, dibentuk ornamen). Lalu sebagai pengingat peristiwa itu, tempat di mana tumbuh pohon jambu Lara Dhenok supaya dinamakan Padukuhan Ceper.
Penulis : Mulyantara
Tenaga Ahli : R Toto Sugiharto