1) Gedongan Lor
Dahulu, “Gedongan” bukan hanya nama dusun atau padukuhan, tapi juga pernah menjadi nama kelurahan lama yang menaungi enam padukuhan. Setelah keluarnya Maklumat Pemerintah Provinsi Yogyakarta Tahun 1946, Kelurahan Gedongan dilebur bersama tiga kelurahan lain menjadi Kalurahan Wedomartani, yang berlaku hingga sekarang. Perubahan administratif ini tidak serta-merta menghapus identitas lokal yang telah melekat lama pada warga setempat. Sejarah dusun di Jawa umumnya merujuk pada nama seorang tokoh atau leluhur yang membuka atau membabat wilayah tersebut. Di Gedongan, sosok itu dikenal sebagai Mbah Gedong. Ia diyakini sebagai tokoh pertama yang membuka hutan dan memulai kehidupan awal di tempat ini. Mbah Gedong tidak meninggalkan pusaka, makam, maupun petilasan. Tidak ada satu pun kijing atau batu nisan yang bisa dikaitkan langsung dengannya. Kediamannya dulunya berada di depan kompleks makam dusun, namun tak ditemukan bekas-bekas khusus yang bisa menjadi bukti keberadaan fisiknya. Sosok Mbah Gedong digambarkan sebagai orang sakti, galak, dan penuh wibawa. Namanya sering dipakai oleh orang tua zaman dulu untuk menakut-nakuti anak-anak agar tidak nakal. Selain Mbah Gedong, Adi Umi juga menyebut nama lain: Mbah Renggo. Berbeda dari Mbah Gedong yang tidak memiliki petilasan, Mbah Renggo diyakini benar- benar dimakamkan di dusun. Nisan makamnya sangat khas dan menjadi satu- satunya di wilayah Gedongan: kijing sigar atau nisan terbelah, disusun dari dua blok batu bergaya Hamengkubuwanan. Gaya ini umum dijumpai pada masa sekitar tahun 1800-an atau setelah periode Palihan Nagari. Nama lain yang disebutkan oleh warga adalah Mbah Nur Kandam. Berbeda dari Mbah Gedong dan Mbah Renggo, Mbah Nur Kandam disebut-sebut sebagai leluhur yang menurunkan keturunan langsung di Gedongan. Ia memiliki istri yang dimakamkan di Dusun Sawahan, dan bersama-sama mereka memiliki tiga anak. Salah satu anaknya, Mbah Tirto Sentono, menurunkan lima keturunan, salah satunya adalah Mbah Adipawiro, ayah dari Suharti sendiri. Nama “Gedongan” mungkin diturunkan dari legenda Mbah Gedong, atau berasal dari kata “gegedong” yang berarti tempat pengejaran merujuk pada kisah pengejaran oleh tentara Belanda pada masa lalu. Hal ini diperkuat oleh catatan sensus penduduk tahun 1925 dalam Gegevens over Djokjakarta, yang mencatat keberadaan 10.703 pribumi dan 9 orang Eropa di wilayah Ngemplak.
2) Sawahan Lor
Secara harfiah, Sawahan adalah tempat yang ditanami padi, dan Lor adalah arah utara dalam bahasa Jawa. Sehingga penamaan Sawahan Lor adalah tempat untuk bertanam padi yang berada di wilayah utara. Dalam menelisik sejarah Padukuhan Sawahan Lor sendiri muncul satu nama leluhur yaitu Mbah Nyai Nur Kandam. Mbah Nyai Nur Kandam adalah pamong pemerintah Kalurahan Wedomartani yang pada masanya memiliki tanah di Sawahan Lor yang
kemudian dibangunlah rumah untuk ditinggali, hingga sekarang menjadi pemukiman. Semakin lama digali, tidak ada arti khusus dalam penamaan Sawahan Lor. Namun, yang pasti area sawah yang kini masih terjaga mulai dimanfaatkan warga untuk menjadi potensi wisata sehingga kesejahteraan warga secara ekonomi pun bisa berkembang. Warga Sawahan Lor mengembangkan wisata Bulak Sawah sebagai destinasi wisata edukasi dengan memanfaatkan suasana alam yang bisa dikunjungi pelajar maupun wisatawan lokal dan internasional.
3) Sawahan Kidul
Muncul adanya kemungkinan keterkaitan sejarah Sawahan Kidul dengan Babadan dan Demangan, bukan hanya karena ikatan kekerabatan yang dekat, namun karena kondisi geografis wilayah yang berdekatan dan pernah menjadi satu wilayah di bawah naungan Kalurahan Lama Babadan. Selain itu, jika melihat dari aliran kepercayaan yang dianut oleh warga ketiga dusun ini mayoritas adalah Katholik, hal ini ada keterkaitan dengan penyebaran agama melalui Gereja Katholik Babadan. Secara tata pemerintahan, Sawahan Kidul dulu dipimpin oleh Mbah Suto Pawiro. Mbah Suto Pawiro merupakan seorang pamong di Kalurahan Lama Babadan pada masa sebelum dileburnya empat kalurahan lama menjadi Kalurahan Wedomartani melalui Maklumat Nomor 5 Tahun 1948 tentang perubahan daerah-daerah kalurahan dan nama-namanya. Dulu sebelum disebut kepala dusun atau dukuh, jabatan Suto Pawiro adalah Jagabaya yang memiliki kewenangan wilayah Sawahan Kidul dan Demangan bagian utara. Hal ini dikarenakan Demangan bagian selatan kala itu ikut wilayah Padukuhan Babadan. Secara harfiah, Sawahan adalah tempat yang ditanami padi, dan Kidul adalah arah selatan dalam bahasa Jawa. Sehingga penamaan Sawahan Kidul adalah tempat untuk bertanam padi yang berada di wilayah selatan. Mengacu pada kondisi geografis wilayah Sawahan Kidul yang hampir 90% adalah area persawahan dan keberadaannya yang berada di sisi selatan Sawahan Lor dengan batas jalan raya, mengindikasikan penamaan padukuhan pun tak jauh dari keadaan wilayah tersebut.
4) Demangan
Demangan. Sebuah nama yang lahir dari gelar seorang pemimpin lokal, dan tetap bergema hingga kini meski sosok leluhurnya telah lama hilang dari ingatan nama. Ratusan tahun lalu, seorang demang membuka lembar awal peradaban di dusun ini. Meski tak ada catatan resmi yang menyebut namanya, warga menyebutnya dengan penuh hormat: Mbah Demang. Kisahnya bertahan dalam bisik makam tua, dalam warisan tanah dari sangga gawe masa Belanda, serta dalam ingatan yang nyaris memudar namun belum sepenuhnya padam. Semasa kolonial Belanda, Demangan sudah menjadi permukiman yang ramai. Beberapa warga terlibat dalam kerja industri Belanda sebagai sopir delman pengangkut tebu, disebut sangga gawe. Sebagai imbalan, mereka menerima hadiah berupa sebidang tanah, baik sawah maupun pekarangan. Tradisi sangga gawe ini menjadi tonggak awal kepemilikan lahan secara turun-temurun di kalangan warga Demangan. Hingga kini, beberapa ahli waris masih menempati lahan yang
diyakini berasal dari hadiah masa kolonial. Tidak heran jika kepemilikan tanah di Demangan terbilang relatif mapan, dan menjadi salah satu faktor penting dalam pertumbuhan permukiman di wilayah ini. Geliat budaya juga tampak sejak masa itu. Warga Demangan kerap datang ke Kraton Yogyakarta untuk menyerahkan hasil bumi sebagai bentuk penghormatan. Upacara ini bukan sekadar bentuk loyalitas, melainkan simbol hubungan spiritual antara rakyat dan raja. Saat itu, Keraton masih dipimpin oleh Sri Sultan Hamengkubuwono VIII, dan partisipasi warga Demangan menjadi bukti keterlibatan aktif dalam jaringan budaya Jawa yang lebih luas. Dalam sejarah Jawa, gelar “Demang” merujuk pada jabatan administratif tingkat desa di bawah lurah. Gelar ini sudah ada sejak masa Jawa kuna dan digunakan hingga zaman kolonial sebagai pemimpin distrik yang diangkat oleh keraton. Gelar ini tidak hanya menunjukkan jabatan struktural, tetapi juga status sosial yang tinggi di masyarakat. Oleh karena itu, keberadaan Mbah Demang dipandang sebagai figur sentral, baik secara politis maupun kultural. Ada pula kisah dari seorang warga yang meyakini bahwa nama Demangan berasal dari wilayah Kademangan Gayamsari, berdasar penelusuran spiritual. Namun mayoritas warga menganggap ini sebagai cocoklogi. Meski di bagian selatan dusun pernah tumbuh banyak pohon gayam, tidak ditemukan jejak nama “Gayamsari” di peta Yogyakarta tahun 1921, maupun dari penelusuran daring. Gayamsari lebih hidup sebagai ingatan bayangan, hadir dalam bisik mitos ketimbang arsip sejarah. Di utara kompleks makam, terdapat deretan lima kijing lawas bergaya hamengkubuwanan, terdiri dari dua balok batu yang utuh. Jenis ini diperkirakan berasal dari masa setelah Palihan Nagari 1755. Beberapa kijing lain sudah terkubur sebagian, menyisakan kepala nisannya saja. Di atasnya, terdapat empat nisan lebih tua, bergaya Pajang: polos tanpa ukiran dan tanpa badan makam. Posisi mereka tak lagi simetris, kemungkinan besar pernah
tergeser. Jenis nisan seperti ini lazim dijumpai pada makam-makam kuno sebelum era Mataram Islam mencapai puncaknya. Ia memberi tanda bahwa wilayah ini telah dihuni jauh sebelum kolonial hadir. Menurut cerita turun-
temurun, salah satu dari lima kijing lawas itu dipercaya sebagai makam Mbah Demang. Sementara keempat nisan bergaya Pajang tidak diketahui secara pasti siapa yang dimakamkan. Yang menarik, lima kijing diletakkan sejajar. Ini bisa menandakan kelima tokoh yang dimakamkan memiliki status setara atau mungkin bertali darah. Jika benar salah satu adalah Mbah Demang, besar kemungkinan keempat lainnya adalah kerabat dekat atau tokoh penting pada zamannya.
5) Babadan
Asal muasal Babadan ada dua versi. Versi yang pertama yaitu merujuk pada sifat masyarakat yang tinggal bersifat urakan dan suka berhias namun juga cendikiawan dan terdidik. Selain itu, jika menilik dari arti Babadan secara harfiah yaitu babad-babad atau tarung pada masa penjajahan Belanda dimana di wilayah Babadan ini orang-orangnya seneng kerengan (berani berjuang). Melihat dari awal masa penjajahan Belanda, bahwa ada orang bernama Raden Ayu Riyo Koesoemo atau Raden Ayu Sekarjagad yang diyakini istri dari Raden Riyo Koesoemo abdi dari Pangeran Purbaya. Raden Ayu Sekarjagad dikisahkan terpisah dari Raden Riyo Koesoemo ketika pengejaran tentara Belanda dan bermukim di desa yang saat ini dinamakan Babadan. Raden Ayu Sekarjagad yang pandai menari dan bernyanyi dalam bahasa Jawa (nembang) pun mengajarkan kesenian tersebut kepada masyarakat sekitar. Meski masih dicari bukti literasinya, kisah Raden Ayu Sekarjagad sudah pernah disajikan dalam bentuk seni pertunjukan srandul dalam Pentas Desa Budaya Selasa Wagen yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta dengan judul Dumadine Dusun Babadan. Terlepas dari dua versi asal muasal Padukuhan Babadan tersebut, Mbah Yono menambahkan bahwa memang dusun Babadan ini tidak lepas dari seni dan budaya, terutama wayang orang. Hal ini didasari adanya pendatang bernama Ki Widi Karsono yang merupakan abdi dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat dengan sebutan Ki Bekel Cermo Carito. Di dusun Babadan dia menjadi tokoh seni pedalangan yang memberikan warisan wayang orang. Selaini itu, menyebutkan warga dusun Babadan adalah orang-orang cendikiawan dan rohaniwan tak lepas dari adanya sekolah yang saat ini berusia hampir seabad, yaitu SD Kanisius Babadan. SD Kanisius Babadan ini pun memiliki kisah tersendiri karena SD Kanisius Babadan merupakan embrio Geraja St. Petrus Paulus Babadan yang kini berlokasi di Dolo Pucanganom. Awal mula didirikannya Volk School di Desa Babadan (saat itu belum menjadi dusun) pada tahun 1928 mengalami dinamika dan perubahan-perubahan. Lembaga Pendidikan yang terjadi semasa penjajahan Jepang pada tahun 1942-1945 maupun pada peristiwa agresi militer II tahun 1949. Setelah melalui masa buka tutup sekolah, tahun 1952 sekolah dibuka kembali dengan nama SD Kanisius Babadan. Laju perkembangan umat yang pesat sehingga SD Kanisius Babadan tidak mampu lagi menampung jumlah umat Ketika perayaan misa, maka diupayakanlah Pembangunan Gedung gereja secara permanen. Melalui beberapa kali permohonan perizinan, pada tanggal 20 November 1959, Bapak Lurah Pawirogeno memberikan bantuan tanah seluas 3920 m2 dengan letter C no. 03 persil no. 65 D di Dusun Dolo yang menjadi lokasi gereja saat ini. Nama Santo Petrus dan Paulus dipilih sebagai pelindung gereja karena keteladanan kedua rasul tersebut sebagai peletak dasar iman Katolik. Setelah melalui beberapakali pembangunan dan perbaikan gedung gereja, pada tanggal 7 Januari 2017, Joglo “Kinanthi ing Gusti” diresmikan dan diserahkan oleh GBPH Prabukusumo, S.Psi.
6) Saren
Dahulu, Saren dikenal sebagai kampung jagal kebo. Di masa-masa sulit pra- kemerdekaan, kerbau bukan hanya sahabat petani di sawah, tapi juga sumber pangan, sandang, bahkan simbol daya tahan. Di kampung ini, darah kerbau yang dikenal sebagai saren, dimanfaatkan dan dikreasikan menjadi lauk favorit rakyat kecil. Ketika daging terlalu mahal, saren menjadi “emas merah” yang dicari. Dari aktivitas inilah nama Saren melekat, menjadi identitas sekaligus warisan budaya yang kemudian dikaji ulang seiring datangnya nilai-nilai baru, terutama ajaran Islam yang mengharamkan konsumsi darah. Dalam kondisi ekonomi sulit, terutama saat paceklik dan musim kemarau panjang, masyarakat memanfaatkan apa saja yang bisa menjadi sumber gizi. Salah satunya adalah darah kerbau yang disembelih. Darah itu diolah menjadi saren—atau dhidheh, yakni lauk yang dikukus lalu ditumis dengan aneka bumbu, seperti cabai hijau. Rasanya yang gurih dan teksturnya mirip hati ayam menjadikan saren alternatif lezat bagi yang tidak mampu membeli daging. Karena aktivitas penjagalan kerbau cukup masif dan pasokan saren berlimpah, kampung ini pun dikenal sebagai “Kampung Saren”. Produk saren menjadi simbol ketahanan pangan lokal yang berbasis kearifan warga menghadapi keterbatasan. Warga Saren dikenal pula sebagai ahli jagal kebo dan penyedia pangan khas kampung. Namun, nilai-nilai agama Islam yang berkembang pesat sejak masa Orde Baru membawa perubahan. Dalam ajaran Islam, darah termasuk makanan haram yang tidak boleh dikonsumsi. Selain itu, secara medis darah dianggap tak layak dikonsumsi karena risiko kesehatan. Pemerintah pun melarang perdagangan darah hewan untuk pangan. Sejak itu, tradisi konsumsi saren lambat laun menghilang. Meski demikian, nama “Saren” tetap hidup sebagai penanda sejarah dan identitas kampung yang pernah bertahan dari keterbatasan dengan kekuatan rakyat kecil. “Pasar Wonosari” termasuk dalam wilayah Dusun Saren, dan itu warga Dusun Saren masih menyebutnya sebagai pasar saren secara tradisi turun temurun, meskipun penamaan secara formal sekarang disebut “Pasar Wonosari”. Beberapa warga lokal yang berusia di atas 60 tahun menyatakan bahwa penamaan “Pasar Wonosari” sudah dikenal sejak zaman Belanda.
7) Tonggalan
To Menggolo merupakan cikal bakal adanya Dusun Tonggalan yang sekarang dimakamkan di Dusun Demangan. Dimana peninggalan Simbah To Menggolo berupa pohon melinjo. Ki To Menggolo juga masih keturunan dari kraton Surakarta. Alkisah pada tahun 1700 Simbah To Menggolo melakukan babat alas untuk membuka lahan dengan mengajak cucunya. Cucu keturunan kelima almarhum Bapak Pawiro Dikromo yang mempunyai enam anak tiga laki-laki dan 3 perempan, masing-masing bernama Bapak Arjo Perwito (ayah dari Bapak Noto Hadi Prayitno dan Bapak Mariyo), Ibu Mudiasmo (tinggal di Dusun Kandangan), Bapak Samijo atau Adi Wiyarjo, Bapak Pairan atau Pursami, Ibu Joyo Wiyono dan Ibu Wasi atau Darmo Prayitno (tinggal di Dusun Bandulan). Wilayah babat alas dibagi menjadi tiga bagian yaitu wilayah Punthuk. Wilayah dimana letak geografisnya berada ditanah yang agak tinggi (lemah munthuk, bahasa Jawa) di sisi barat. Kemudian wilayah tengah di sebut Ndeso.Wilayah perbatasan di antara rumahnya Bapak Dukuh Pranowo Susanto dari utara sampai ke selatan yang berbatasan dengan Dusun Saren.Wilayah sebelah timur, disebut tegal dan ditinggali oleh dia sendiri sampai timur jalan. Setelah tahun
berganti, maka banyak cucunya yang menempati wilayah hasil babat alasnya itu. Dari ujung barat wilayah yang berbatasan dengan Wonorejo sampai ujung timur perbatasan dengan timur jalan Tonggalan, karena penghuninya masih satu kerabat (tunggale kabeh, bahasa Jawa), maka Simbah To Menggolo menyebutnya dengan dusun Tonggalan.
8) Wonorejo
Dusun Wonorejo dinamakan oleh Simbah Wonorejo asli Gemutri. Setelah dia meninggal Mbah Wonorejo dimakamkam di dusun Bandulan, wilayah Sukoharjo. Anak Mbah Wonorejo diangkat untuk pertama kali menjadi Lurah Jogoboyo. Peninggalan Mbah Wonorejo yang sampai saat ini masih terawat adalah tiga buah keris. Dua keris perempuan dan satu keris laki-laki. Keris yang pertama bernama Bolajer, luk sebelas pemberian mendiang bapaknya, Wongso Dimejo. Kemudian keris Nyi Sujinah pemberian dari Simbah Wonorejo. Keris ketiga luk
pitu, bernama Sri Wedari pemberian dari Ki To Derono. Jabatan Lurah Jogoboyo selanjutnya dipegang oleh Kromo Sentono. Tidak banyak yang bisa dicatat selama dia menduduki jabatan itu. Hanya ketika dia berkuasa jabatan Lurah
Jogoboyo berganti nama menjadi Mbah Dukuh. Peninggalan Lurah Jogoboyo berupa tiga keris diberikan kepada Bapak Paidi yang bersedia merawatnya samapai sekarang.
9) Wonosari
Nama “Wonosari” bukanlah sekadar identitas administratif. Ia mengandung harapan dan makna mendalam: “Wono” berarti hutan, “Sari” berarti inti atau yang terbaik. Dusun ini adalah sari dari alas, inti dari kawasan yang dahulu liar, yang kini menjadi ruang hidup yang subur, aman, dan sarat nilai gotong royong. Dari belantara tanpa nama, kini Wonosari berdiri sebagai simbol ketekunan manusia yang menyatu dengan alam, sejarah, dan sesama. Penghuni pertama yang tercatat dalam cerita lisan masyarakat adalah seorang tokoh yang bernama Kyai Singo Dongso. Beliau adalah salah satu dari tiga bersaudara. Dua saudaranya, yaitu Kyai Singo Irono dan Kyai Singo Taruno, masing-masing tinggal di wilayah Keniten dan Gondang Legi. Kyai Singo Dongso menetap di wilayah yang kini disebut Wonosari, beranak-pinak, hingga akhirnya wafat dan dimakamkan di pemakaman dusun Wonosari. Dari beliaulah cikal bakal pertumbuhan dan penyebaran penduduk dusun ini dimulai. Di bagian utara dusun terdapat sebuah taman yang ditata rapi dan menjadi ikon lokal. Di dekat taman tersebut terdapat pula sebuah makam tua yang dikenal dengan nama “Mbah Lola”. Konon, Mbah Lola adalah seorang musafir yang suatu ketika singgah di rumah warga, namun kemudian jatuh sakit dan meninggal dunia. Karena pada waktu itu Dusun Wonosari belum memiliki area pemakaman umum, beliau dimakamkan di area persawahan di utara dusun. Sosok Mbah Lola dikenal sebagai pribadi yang tidak memiliki keluarga dan hidup sebatang kara. Sampai kini, makam tersebut masih sering diziarahi warga. Bahkan ada wacana untuk memindahkannya ke pemakaman resmi sebagai bentuk penghormatan dan perawatan yang lebih layak.
10) Rejosari
Dusun Rejosari, yang terletak di Kalurahan Wedomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman, menyimpan makna filosofis dalam namanya. “Rejo” berarti makmur, dan “Sari” berarti baik. Maka, Rejosari mencerminkan
harapan warga agar dusun ini menjadi tempat yang makmur dan penuh kebaikan. Nama itu bukan sekadar identitas, melainkan doa dan semangat kolektif masyarakatnya. Tidak ada sejarah terkait penamaan dusun Rejosari
yang diketahui oleh masyarakatnya.
11) Pajangan
Konon, nama “Pajangan” bukan hadir begitu saja. Ia berasal dari kisah seorang pangeran dari Kerajaan Pajang, Pangeran Pamod, yang singgah di tempat ini pada masa lampau. Dengan menunggang kuda dan diiringi wibawa
kebangsawanan, sang pangeran berhenti di bawah pohon rindang. Kepada warga yang berkumpul, ia berdiri tegak dan berkata, “Hai rakyatku, kalian menjadi saksi bahwa kampung ini saya beri nama Pajangan dan umbul yang di
sana adalah Umbul Pajangan,” sambil menunjuk ke arah utara. Sejak saat itu, nama Pajangan diabadikan sebagai nama dusun, dan Umbul Pajangan menjadi bagian dari identitas wilayah tersebut.
12) Pokoh
Meski sampai saat ini belum menemukan sumber literasi terpercaya tentang asal usul penamaan dusun, dalam bahasa Jawa pokoh berarti pohon besar, kuat dan kokoh. Akan tetapi, di Dusun Pokoh sendiri, saat ini tidak ada pohon tersebut karena ada kemungkinan sudah ditebang untuk pembangunan area pemukiman. Terlepas dari asal usul nama dusun, justru yang menonjol dari Dusun Pokoh adalah latar belakang terkait toponimi penamaan jalan seperti Jalan Pawiro Geno, Jalan Ki Supandi, Jalan Kyai Ahmad Sahid dan Jalan To Menggolo. Mulai dari Pawiro Geno yang merupakan nama lurah pertama kalurahan lama Pokoh dijadikan nama jalan di sisi selatan bagian dalam dusun. Sementara itu Jalan Supandi membentang di sisi barat bagian dalam dusun. Ki Supandi salah satu pejuang kemerdekan yang sama masanya dengan Letnan Komarudin yang terkenal kebal peluru. Bahkan setiap hari kemerdekaan pun rutin dilakukan tabur bunga di makamnya yang terletak di makam Barat Pokoh. Meski belum
terealisasi dan masih diusahakan untuk menjadi bagian dari para pahlawan, Ki Supandi digunakan sebagai nama jalan untuk mengenang jasa beliau yang merupakan pejuang kelahiran dusun Pokoh. Selain tokoh kemerdekaan dan tokoh pemerintahan, ada Kyai Ahmad Sahid yang merupakan tokoh dari bidang keagaman yang dijadikan nama jalan. Kyai Ahmad Sahid adalah Rois pertama di dusun Pokoh, dan Rois saat ini yaitu Amad Damiri merupakan Rois generasi ketiga. Sementara untuk penamaan Jalan To Menggolo, ada beberapa versi yang muncul, yaitu adanya keterkaitan dengan To Menggolo yang merupakan abdi Kraton Surakarta yang terusir hingga ke wilayah Argomulyo, Cangkringan pada masa pemerintahan Pakubuwana IV. Melihat dari kisahnya, ada kemungkinan ketika To Menggolo terusir dari kraton, dia mengembara dan mencari tempat di area Pokoh ini sehingga menetap dan meninggal disini. Hal ini diperkuat dengan adanya makam yang diyakini sebagai makam To Menggolo, leluhur dusun Pokoh. Meski saat ini sudah tidak ada lagi pertunjukan wayang kulit, namun dulunya Pokoh memiliki grup kesenian wayang kulit dan wayang orang. Kini yang tersisa adalah keturunan dalang Wiji Taryono yang menjadi seniman penatah wayang dan penatah kayu. Hingga saat ini, masih ada seni pertunjukan yang dilestarikan, yaitu Gejog Lesung dan Macapat.
13) Gondanglegi
Gondang Legi, jika dirunut dari namanya mengandung nama pohon gondang, yang berbuah legi (Jawa) alias manis. Gondang (bahasa Jawa) atau kondang (bahasa Sunda) termasuk ficus variegata. Gondang adalah tumbuhan yang
memiliki tinggi 15 sampai 30 meter ini memiliki akar tunggang dan batang bulat, bercabang, permukaan kasar, warna hijau kecokelatan. Daunnya lonjong dengan ujung meruncing yang berwarna hijau. Buah gondang disebut juga lumaput atau kondang, memiliki warna hijau kemerahan, merah bergaris putih, terdapat bintik hijau kekuningan, dan bergerombol pada batang dan cabang pohon. Syahdan, Gondang Legi digunakan sebagai penanda sebuah dusun di daerah Wedomartani, Ngemplak, Sleman. Gondang Legi digunakan sebagai tetenger atau penanda. Karena di masa lalu, banyak sekali pohon gondang di area tersebut, yang jika sudah matang, berwarna kemerahan rasanya manis (legi, bahasa Jawa). Jika dilakukan penelusuran ke area dusun tersebut, bekas-bekas kejayaan pohon gondang tak ditemukan lagi. Karena tidak ada yang menanam, pohon itu sudah hilang dari peredaran. Memang ditemukan sebuah pohon yang usianya sudah tua, yaitu pohon beringin, di pinggir kali Kuning. Konon dulu pohon gondang letaknya berdekatan dengan pohon beringin itu. Pohon-pohon tersebut menempati area Sultan Ground.
14) Kepuh
Kepuh adalah nama pohon besar, menjulang, dan berdaun menjari itu dulunya tumbuh liar di tanah tegalan yang sunyi. Ia bukan sekadar tanaman, ia adalah penanda, pepeling, dan saksi bisu lahirnya perkampungan yang kini bernama Dusun Kepuh. Di tempat inilah delapan orang, bukan dari satu keluarga, memutuskan untuk menetap dan membuka lahan. Mereka adalah Jo Kasemo, Kasan Jais, Karyo Semito, Jo Pawiro, Kuncung, Mertodimedjo, Karyo Dikromo, dan Ahmad Soemardjo. Mereka membagi lahan yang dibuka menjadi delapan bagian atau wolung pekulen sebagai hak milik masing-masing. Setelah beberapa waktu tinggal, mereka bersepakat memberi nama wilayah ini: Dusun Kepuh, diambil dari nama pohon besar yang banyak tumbuh di sekitar tegalan. Sebagian menyebutnya “kepoh”, sebagian lagi “kepuh”. Pohon ini menjadi penanda mencolok dan akhirnya dijadikan pepeling (pengingat) atas nama dusun. Di tikungan selatan Dusun Kepuh terdapat batu besar yang menonjol di pinggir jalan, dikenal sebagai Watu Gedhe. Asal-usul batu ini tidak diketahui. Bahkan para sesepuh mengatakan batu itu sudah ada sejak mereka pertama tinggal di dusun. Meskipun secara fisik batu tersebut mengganggu pengguna jalan, tak satu pun warga berani memindahkannya. Pernah suatu kali ada warga yang hendak menghancurkan batu itu. Namun, saat tiba di lokasi, ia hanya berdiri diam, kehilangan keberanian dan kekuatan. Ia pun mengurungkan niatnya.
15) Wonokerso
Dusun Wonokerso pada mulanya gerumbul, suatu lahan yang dipenuhi reumputan dan ilalang serta pohon-pohon besar. Nyai Lola atau Nyai Mriyun dengan bantuan beberapa orang bergotong royong membuka lahan menggunakan peralatan sederhana dan memakan waktu yang lama. Dusun Wonokerso itu sebenarnya terdiri dari dua kata, yaitu Wono dan Kerso. Menurut Supardi, Suparjo dan Mbah Yono: Wono artinya alas atau sawah; Kerso artinya arep (mau) atau gelem (bersedia). “Trima neng ngalas,” tambah Suparjo yang memang sampai sekarang hari-harinya dihabiskan di sawah. Dusun Wonokerso dahulu merupakan tempat untuk berlatih (papan gladhen) meliputi gladhen tari, karawitan, wayang orang (wayang wong) dan tabib. Tidak hanya untuk orang Wonokerso tetapi ada juga orang-orang yang berasal dari berbagai dusun dari padukuhan lain seperti Babadan, Sawahan dan Demangan yang masih ada hubungan dengan asal keturunan Nyai Lola. Ini semua seni yang pernah diekspresikan pendudukWonokerso jaman dahulu dan kini tinggal kenangan menjadi bagian dari kisah perjalanan hidup turun-temurun telah mengukir keberadaan Dusun Wonokerso. Tersisa satu kesenian, yaitu hadroh. Ini pun pelaku seni tidak murni penduduk Wonokerso tetapi merupakan gabungan orang-orang dari berbagai dusun.
16) Sempu
Padukuhan Sempu dengan luas area sekira 32 ha, pada awal dahulu kala berupa alas atau hutan belantara. Di kawasan tersebut banyak tumbuh pohon jambu kluthuk atau jambu biji, pohon mangga, dan pohon jambu monyet.
Mangga lokal Sempu mempunyai rasa yang kurang manis dan berserat banyak sehingga buah ini kurang diminati. Selain itu, sekarang juga sudah tidak banyak ditemui. Sama halnya dengan jambu biji. Hanya pohon jambu Monyet yang sampai sekarang masih banyak ditemukan di Sempu. Tapi, justru asal mula penamaan Sempu bukan dari jenis pohon tersebut. Mbah Dipoleksono adalah orang pertama yang datang di wilayah ini. Beliau masih keturunan dari Kyai Ageng Garibig penyebar agama Islam di kawasan Jatinom, Klaten, Jawa Tengah. Kyai Ageng Garibig adalah keturunan Prabu Brawijaya V. Hanya saja memang tidak diketahui keturunan keberapakah Mbah Dipoleksono dari Kyai Ageng Garibig.
Kedatangan Mbah Dipoleksono di Sempu sebagai upaya menghindari perselisihan yang terjadi di keluarga beliau. Mbah Dipoleksono akhirnya pergi meninggalkan Jatinom untuk mencari tempat tinggal baru. Perjalanan inilah yang
mengantarkan Mbah Dipoleksono ke wilayah Sempu. Beliau merasa cocok dengan alam yang ada di Sempu pada zaman itu. Beliau mencoba membuka hutan belantara yang kita kenal dengan istilah babat alas dan menjadikan hunian baginya dan pengikutnya. Saat babat alas, beliau merasa kelelahan dan beristirahat di bawah pohon besar nan rindang, yaitu pohon asam. Di bawah pohon itu, beliau menemukan biji-biji asam yang sangat banyak. Biji-biji itu kemudian dikumpulkan hingga memenuhi wadah atau tempat yang beliau bawa, yaitu berupa sebuah cupu. Biji asam saat itu adalah komoditas yang cukup bernilai tinggi. Beliau merasa nyaman beristirahat di tempat tersebut. Beliau merasa seakan menemukan sesuatu yang bernilai hingga beliau berucap, “Nekana rejaning jaman”, yang berarti “jika suatu saat kelak”. Mbah Dipoleksono mempunyai harapan besar bahwa daerah ini akan menjadi makmur di masa depan. Maka, daerah ini dinamakan Sempu, dimaksudkan dari asem sacupu (maksudnya buah asam dalam satu cupu) yang kemudian karena penyebutan yang cepat, berubah menjadi Sempu. Sayangnya pohon asam yang dimaksud sudah tidak lagi ada.
Ada versi lain juga yang menceritakan sejarah nama Padukuhan Sempu. Ada yang menyebutkan Mbah Dipoleksono membawa biji asam secupu atau satu cupu yang kemudian ditanam di hutan yang sudah beliau babat. Tapi, hanya satu pohon yang tumbuh. Dari situlah Mbah Dipoleksono menyebutkan, “Di sini adalah Sempu. Asem sacupu.” Versi-versi yang beredar di masyarakat adalah versi-versi yang didapatkan dari para orang tua yang menurunkan cerita dan dongeng ke anak cucu yang ada di Sempu. Menurut penuturan warga setempat dan warga asli Sempu, Makam Mbah Dipoleksono berada di Makam Sempu yang terkenal dengan nama Sasonoloyo Darul Baqa yang berarti Kekal. Memang tidak diketahui dengan jelas titik makam Mbah Dipoleksono karena ada empat makam yang bersanding. Dari trah atau garis keturunan Mbah Dipoleksono dan Mbah Kertosetiko, sayangnya tidak ada catatan silsilah yang menerangkan keturunan keberapakah Mbah Kertosetiko dari Mbah Dipoleksono. Sementara, dua makam lain adalah istri dari Mbah Dipoleksono dan Mbah Kertosetiko.
17) Gandok
Awal mula penamaan Gandok dikarenakan letaknya yang adu pojok atau gandok (Bahasa Jawa) dengan kampung yang berada di pematang sawah. Maka dari itu, kedua lahan tersebut disebutlah dengan nama Gandok Njero dan Gandok Tegal. Dinamai Gandok Njero karena berada di sekitar pemukiman rumah warga atau perkampungan. Sedangkan wilayah yang berada di area persawahan atau pategalan, dinamai dengan Gandok Tegal. Nama secara administrasi di kelurahan hanya nama Gandok. Namun demikian. masyarakat sekitar sering menyebut dengan nama Gandok Njero karena berada di sekitar perkampungan.
Gandok Njero memiliki petilasan yang digunakan sebagai sarana perayaan merti dusun ataupun sesaji orang-orang yang punya hajad. Petilasan yang masih aktif digunakan untuk ritual ini adalah belik atau sumber mata air yang ada di belakang Balai Dusun Gandok Njero. Ada Belik Sukun yang dijadikan sumber oleh masyarakat pada saat itu sebelum semua warga memiliki sumur. Air di Belik Sukun, dulu dikeramatkan sebelum adanya kemajuan Islam. Semua kegiatan hajat yang dilakukan oleh masyarakat Dusun Gandok, air tersebut selalu dijadikan sarana keselamatan. Oleh karenanya, jalan yang ada di sekitar belik dan balai pertemuan Gandok Njero dinamakan Jalan Belik Sukun.
Dulu, ada orang yang bernama Pawiro Kasini dari Padukuhan Pocung, menjadi orang yang senang tetulung bagi masyarakat Gandok. Dalam proses penyembuhan, Pawiro Kasini menggunakan air Belik Sukun. Dari situ, awal mula
penggunaan air belik sekaligus nguri-uri atau melestarikan keberlangsungan air Belik Sukun. Dari air Belik Sukun itu, Pawiro Kasini berdoa agar kiranya air tersebut bisa dijadikan sebagai sarana kesembuhan orang. Keberhasilan Pawiro dalam membantu masyarakat sembuh dari penyakit melalui air Belik Sukun, menjadikannya Belik Sukun digunakan sarana keperluan apapun oleh masyarakat setempat.
18) Gandok Tegal
Sejarah Dusun Gandok Tegal tidak lepas dari Dusun Gandok Njero atau Gandok Dusun. Waktu itu, wilayah perkampungan dan persawahan merupakan wilayah Dusun Gandok. Namun, perkembangan zaman, pemekaran lahan pategalan yang berubah fungsi menjadi pemukiman, mengakibatkan bertambahnya jumlah penduduk, Oleh sebab itu, dibagilah wilayah geografis antara perkampungan dan persawahan atau pategalan tersebut. Hal ini untuk mempermudah pelayan dalam pemerintahan. Adapun, perbatasan antara Gandok Njero atau Gandok Dusun dengan Gandok Tegal hanya jalan kampung. Cikal bakal Gandok Tegal ada sembilan orang. Dari kesembilan nama cikal bakal Gandok Tegal tersebut di antaranya Mbah Iradikromo, Setrokaryo, Jiworeja, dan Wangsadikromo.
19) Jangkang
Nama Dusun Jangkang diyakini sudah ada sejak zaman dahulu, namun tidak ada catatan pasti sejak kapan nama ini digunakan. Nama “Jangkang” berasal dari pohon jangkang (Sterculia foetida) atau kelumpang/kepuh, yang dahulu
tumbuh di bagian selatan dusun. Pohon ini dikenal tinggi, menjulang, dan berumur panjang. Dalam tradisi Jawa, pohon-pohon besar seperti jangkang sering ditanam di area pemakaman karena diyakini sebagai tempat bersemayam arwah. Oleh sebagian warga, pohon ini bahkan disebut sebagai “pohon genderuwo” karena kesan mistis yang ditimbulkannya. Di Dusun Jangkang, pohon tersebut terkenal angker. Konon sering terdengar ringkihan kuda dari arah pohon itu menjelang malam, menimbulkan suasana mencekam. Bahkan, pernah terjadi kejadian mistis yang menimpa keluarga yang tinggal dekat pohon tersebut. Untuk menebangnya, warga harus melalui ritual yang rumit dan melibatkan orang pintar. Hingga kini, tidak diketahui secara pasti kapan pohon itu akhirnya berhasil ditebang.
20) Pucanganom
Dulunya, Nama Dusun Pucanganom adalah Dusun Pucangsari. Mengingat saat ini hanya beberapa orang saja yang asli pribumi dan sebagian besar adalah pendatang, sehingga tidak banyak yang mengetahui sejarah berdirinya Dusun Pucangsari. Ponco Itono adalah orang yang pertama kali tinggal di wilayah tersebut. Ponco Itono melakukan babat alas hingga akhirnya banyak warga yang ikut tinggal di Pucangsari. Setelah wilayah berkembang dan wilayah semakin ramai, Ponco Itono diangkat menjadi pemimpin wilayah setingkat bekel. Pucang dalam bahasa Jawa berarti pohon pinang atau pohon jambe, sementara sari merujuk pada intisari kehidupan, sesuatu yang berharga. Ada pula yang mengartikan Pucang sebagai pohon aren. Sehingga secara harfiah, nama Pucangsari bisa diartikan sebagai tempat yang banyak tumbuh pohon pinang atau tempat yang memiliki keindahan atau menyimpan sesuatu yang berharga. Hal ini merujuk pada keberadaan pohon pinang di wilayah Pucangsari.
21) Dolo
Kawasan yang kini menjadi Dusun Dolo pada awalnya merupakan lahan liar yang dipenuhi oleh pohon-pohon mbolo (dari gembolo), sejenis tanaman umbi- umbian dengan nama Latin Dioscorea bulbifera. Sebagai jenis umbi-umbian,
tanaman ini memiliki keunikan, yakni buahnya yang tumbuh di atas, berbeda dengan umbi-umbian umumnya yang tumbuhnya di bawah tanah.
Pada jaman dahulu, tanaman mbolo begitu melimpah dan lebat, hingga menutupi hampir seluruh permukaan tanah di wilayah tersebut. Karena banyaknya tanaman tersebut, menurut penuturan Mbah Jiyo, seorang tokoh sepuh yang saat ini berusia sekitar 100 tahun dan merupakan warga asli, masyarakat kala itu menyebut kawasan ini sebagai “nggoné mbolo” atau “tempat pohon mbolo”. Seiring waktu dan perubahan pelafalan lisan, sebutan tersebut kemudian berubah dan akhirnya dikenal sebagai “Dolo”. Kemudian, bermula dari sembilan orang perintis, termasuk di antaranya adalah orang tua dari Mbah Jiyo – dengan semangat kebersamaan, mereka melakukan “babat alas” – yaitu, membuka dan membersihkan kawasan yang masih berupa belantara tanaman mbolo agar dapat dijadikan tempat tinggal dan lahan pertanian. Meskipun kini pohon mbolo sudah sangat jarang ditemukan, sejarah dan nilai-nilai yang diwariskannya tetap hidup dalam ingatan dan kehidupan masyarakat Dusun Dolo
22) Nomporejo
Dari asal katanya, nama Nomporejo berasal dari bahasa Jawa, yakni nampa dan reja. Dalam Bausastra Jawa, Poerwadarminta (1939), nampa berarti nadhahi (mewadahi), nrima (menerima). Reja berarti tentrem sarta akeh wonge (tenteram serta banyak orang atau warganya). Pada 1960-an sebagian besar tanah di Nomporejo berupa ladang atau kebun yang ditanami pohon buah-buahan, seperti jambu, durian, dan mangga, serta singkong. Panenan berlimpah dan tanah yang subur inilah yang mengundang reja berupa perkembangan kampung.
Pertama, ada tiga keluarga yang menghuni Nomporejo, di tepi jalan yang kini menjadi Jalan Raya Tajem (deretan Alfamart Wedomartani). Pak Mantri, Pawiro Sri, dan bapak dari Bu Min yang dulu pegawai di Dinas Pengairan. Keluarga-keluarga inilah yang kemudian tinggal dan berkembang di Nomporejo. Setelah itu, ada pertambahan penduduk, Keluarga Pawiro Saman, Cipto Harjono, dan Abdul Rahman. Saat itu tanah ladang masih murah. Jadi, dibeli lalu dihuni. Seiring waktu, lahan yang semula berupa ladang atau kebun, beralih fungsi menjadi hunian, sehingga memerlukan akses jalan. Jalan yang membelah dusun dari utara ke selatan (kini bernama Gang Anggrek Raya) pada 1982-1999. Selanjutnya, jalan tengah yang membujur dari barat ke timur dari Jalan Raya Tajem (Gang Mawar) dibuat pada 1999 dan 2000-an.
23) Dero
Dahulu datang seorang pengembara ke dusun ini. Dia membuka hutan untuk dijadikan permukiman. Pengembara ini berasal dari wilayah Kediri, Jawa Timur, bernama Kiai Ageng Panji Ahmad Danah. Lalu dia dikenal dengan sebutan Ndoro Panji. “Ndoro” dalam bahasa Jawa merupakan panggilan yang sopan untuk orang dengan kedudukan yang lebih tinggi. Ndoro Panji akhirnya tinggal di tempat ini dan menjadi cikal bakal dusun. Wilayah ini kemudian dikenal dengan nama Dusun Dero. Nama Dero berasal dari panggilan “Ndoro Panji”. Dero diambil dari kata “Ndoro” yang pengucapannya berubah menjadi “dero”. Dan “Panji” pengucapannya berubah menjadi kata “panjen” digunakan untuk nama Dusun Panjen.
Keberadaan sosok Kiai Ageng Panji Ahmad Danah dapat ditelusuri dari sebuah makam yang ada di Dusun Dero. Di barat laut atau sebelah pojok utara area pemakaman terdapat sebuah makam berbentuk kijing yang bertuliskan aksara jawa kuno pada keempat sisinya. Masyarakat sekitar mempercayai makam itu sebagai makam Ndoro Panji. Tulisan huruf Jawa pada batu nisan sisi selatan berbunyi “Kiai Ahmad Danah 17-10-91”. Ini menunjukkan bahwa itu benar makam beliau, sedangkan angka tahun yang tercetak adalah tanggal perbaikan makam dan pemasangan regol bukan angka tahun meninggalnya. Pada sisi timur kijing bertuliskan kalimat “Sirna Rasa Asaning” yang artinya hilangnya rasa pengharapan. Untuk sisi barat dan utara, tulisan aksara Jawa yang ada sudah tidak bisa terbaca lagi karena sebagian ukirannya rusak.
Awalnya hanya empat keluarga induk (babon) yang menghuni Dusun Dero. Mereka adalah keluarga Gito Utomo, Adirejo, Aligono dan Hardjo Sumarto. Mereka berempat memiliki tanah yang luas karena bekerja pada pemerintah
Belanda sebagai kuli induk yang ikut membangun jembatan Yapah. Setelah beberapa lama keempat keluarga babon ini menjadi banyak, sehingga warga yang tinggal di Dero sebagian besar mempunyai hubungan keluarga. Namun
warga merasa bahwa kehidupan sehari-hari mereka sering kali terlalu gaduh. Hampir setiap hari terjadi perselisihan antar warga yang berkerabat. Bukan masalah-masalah besar yang menjadi pemicunya justru hal-hal yang sepele.
Muncul celotehan di tengah warga dusun kalau penamaan Dusun Dero yang menjadi penyebabnya. Warga dusun mengartikan kata dero sebagai “under- undering perkara” yaitu masalah atau pertengkaran yang terus menerus,
berputar dan bergiliran antar saudara. Namun sebagian warga berpendapat bahwa pertengkaran itu merupakan hal yang biasa terjadi dan tidak ada hubungannya dengan nama “Dero”. Mereka menganggap itu hanya sekedar
ungkapan (keratabasa) saja.
24) Panjen
Menurut cerita para tokoh masyarakat setempat, nama Panjen berasal dari nama tokoh yang memiliki pengaruh di masyarakat. Tokoh tersebut ialah Ki Panji Amat Danah. Ia berasal dari keraton. Ki Panji Amat Danah merupakan komandan batalion yang memiliki beberapa pengikut setianya. Ia ditempatkan dan memimpin wilayah untuk memberantas kriminlitas di masa itu. Karena Ki Panji dipercaya menjadi pemimpin wilayah, sehingga masyarakat sekitar menjadikannya cikal bakal dari Desa Panjen. Ki Panji Amat Danah tidak ingin dikenal sebagai komandan, Ia hanya ingin dikenang sebagai seorang yang membuka lahan dan bermukim di Desa Panjen.
Saat membaca kata Panji, banyak yang mengira nama Panjen berasal dari kata panji yang berarti bendera. Namun, perkiraan itu ternyata kurang tepat. Desa Panjen ternyata diambil dari wilayah bermukimnya. Sebelum disebut Desa
Panjen, mulanya bernama Kepanjen. Kepanjen bermakna tempat bermukimnya Panji atau pemimpin. Desa Panjen pernah terkenal dengan Pondok Pesantrennya. Pondok Pesantren Minhajul Karomah terletak di Masjid Minhajul
Karomah. Pondok Pesantren ini dipimpin oleh Kiai Ahmad Dana seorang pemuka agama di Desa Panjen. Sekilas nama pemimpin Pondok Pesantren dan cikal bakal Desa Panjen hampir sama. Banyak yang mengira mereka adalah
orang yang sama. Namun, mereka adalah individu yang berbeda.
25) Kenayan
Asal mula dusun itu dari simbah cikal bakal yang bernama Mbah Nayan. Secara jelasnya, sejarah turun-temurunnya telah lama hilang. Hanya saja yang tertinggal makam tertua disebut dengan nama Makam Kiai Demang. Menurut cerita, seorang abdi yang lari dari kerajaan Mataram bersembunyi di tanah Jawa yang sepi. Kiai ini pemomong anak-anak, mengasuh merawat mendidik anak kecil hingga wafat. Dan, sampai sekarang tempat makam Ki Demang dikelilingi nisan anak-anak kecil. Apabila ada yang meninggal dimakamkan yang diterima hanya anak kecil. Sebagai saksi bisu makam Kyai Golo, Kyai Wangsadana ada sebagai penjaga juru kunci dimakamkan di situ juga. Tempatnya sangat wingit (angker).
Kisah lain tentang Dusun Kenayan, di situlah dulunya tempat lenggah Kanjeng Sultan Hamengku Buwono teteki (bertapa) karena ketenangan dan kekhusyukan alamnya. Di sana, Sultan muda masih dikenal sebagai Gusti Brongtodiningrat, datang bukan sebagai raja, tetapi sebagai manusia yang ingin mendengar suara Tuhan. Di bawah pohon randu alas yang besar dan tua, Sultan melakukan tapa brata duduk hening di tengah malam. Berpakaian sederhana, membawa sedikit bekal, menyatu dengan alam, mengendapkan pikiran selama 8 bulan. Dalam keadaan tenang di pagi harinya untuk mengusir Belanda, Sri Sultan berpakaian Jawi. Ngendhika, ”Seprapat tamat,” Sejak pagi itu juga doanya terkabul jam 7 pagi Belanda pergi. Sejak saat itu, nama Kenayan disimpan dalam doa-doa
keraton, sebagai tempat sunyi yang pernah menjadi saksi lahirnya keteguhan. Dan, Sri Sultan Hamengku Buwono VIII sepanjang hidupnya, menjadi pemimpin yang merakyat karena pernah belajar merunduk berdoa di hadapan Yang Maha Agung. Padukuhan Kenayan sedikit menyimpan sejarah penting, karena Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwana VIII pernah singgah bertapa mengusir Belanda pada masa itu.
Di Dusun Kenayan juga menyimpan situs Sejarah sumber air Mbah Glithi. Sumber mata air ajaib yang konon untuk obat yang sangat mujarab. Kalau sekarang untuk sumber irigasi para petani di sekitar yang tidak akan habis walaupun musim kemarau air selalu ada tidak pernah kering. Juru kunci sumber air Mbah Glithi mengungkapkan bahwa tempat itu keramat sebagai harta terpendam. Karena, di sana pernah ditemukan kaca paesan (kaca rias), senjata cokro, wesi kuning dan akik-akik. Setiap Selasa dan Jum at Kliwon orang bermalam nenepi untuk mendapatkan sisik melik dari jauh luar dusun. Belik ini dulu airnya untuk pengobatan untuk segala jenis penyakit. Selain itu, juga untuk mandi, untuk memasak, pengairan, dan keperluan lain. Belik mempunyai cerita mistik bagi orang yang percaya.
26) Niten
Dusun Niten seringkali disebut juga sebagai Dusun Keniten meskipun dokumen resmi menyatakan bahwa nama dusun itu hanyalah “Niten” saja, tanpa awalan “ke-“. Bisa jadi penyebutan Niten sebagai Keniten terjadi karena pengaruh dusun tetangga yang bernama Kenayan. Nama “Kenayan” dipercaya berasal dari nama seseorang yaitu, Mbah Nayan. Demikian pula, nama Niten dipercaya berasal dari nama seorang nenek yang bernama Mbah Niti atau nama panjangnya Sumaniti.
Namun tidak ada keterangan lain tentang Mbah Niti. Mungkin di zaman dahulu, Mbah Niti adalah seorang pendatang yang pertama kali tinggal di Dusun Niten. Anehnya, tidak ada seorang pun yang tahu ke mana dia pergi dan siapa keluarganya. Hingga kini, tidak ada yang bisa menemukan sanak keluarga atau keturunannya.
27) Pengarep
Ada dua versi asal-usul Dusun Pengarep. Pertama, nama “pengarep” dikaitkan dengan perang melawan penjajah Jepang. Pada waktu itu ada beberapa penduduk dusun yang ikut melawan Jepang. Ada yang gugur dalam peperangan tersebut. Oleh karena itu, nama “pengarep” merupakan harapan supaya anak- cucu penduduk dusun menjadi orang-orang terdepan. Kata “pengarep” merupakan rangkaian dari awalan “pe-“ yang dilekatkan pada bentuk dasar arep. Pada dasarnya awalan pe- adalah bentukan bahasa Indonesia, karena dalam bahasa Jawa hanya ada awalan pa- untuk untuk menyatakan makna “orang yang melakukan tindakan yang tersebut pada bentuk dasar”. Menurut Bausastra Jawa, “pengarep” memiliki makna ‘yang terdepan’ atau ‘yang memimpin’. Kedua, Dusun Pengarep didirikan oleh seorang petapa yang membuka lahan di wilayah itu. Lahan itu kemudian ditempati, tetapi belum diberi nama. Barulah setelah ada beberapa orang yang tinggal, dinamakan Dusun Pengarep. Para penduduk
dusun ikut berperang melawan Jepang. Hal ini dibuktikan oleh adanya beberapa senjata perang, seperti tombak dan bambu runcing.
Ada versi lain yang muncul. Menurut cerita, zaman dahulu Dusun Pengarep merupakan sebuah gumuk atau gundukan. Kemudian ada seorang pembesar Majapahit yang datang untuk bertapa. Petapa itu akhirnya menjadi cikal bakal dan membuka lahan Dusun Pengarep dengan nama Eyang Tunggul Manik atau lebih dikenal dengan sebutan Eyang Santri. Konon, Eyang Santri merupakan guru dari raja Majapahit yang bernama Hayam Wuruk. Eyang Santri lari ke wilayah Sleman sewaktu ada huru-hara di Majapahit. Eyang Santri dikatakan memiliki empat orang murid. Namun, di Babad Tanah Jawi, yang belajar Islam bukanlah Hayam Wuruk, melainkan Brawijaya. Makam yang dipercaya sebagai makam Mbah Santri kini ada di sebuah pondok bercat hijau dengan dinding bata.
Letaknya di tengah-tengah sawah yang merupakan perbatasan Kalurahan Wedomartani dan Kalurahan Maguwoharjo. Makam itu sering digunakan untuk “nyanggrah” atau dengan kata lain untuk menyepi dan berdoa.
28) Karangsari
Kata “karang” merujuk pada tempat atau wilayah yang keras namun kokoh, sedangkan “sari” berarti inti atau keindahan. Nama Karangsari pun dimaknai sebagai tempat yang kuat namun menyimpan keindahan sejati, baik dari segi alam maupun kehidupan warganya. Nama ini diyakini lahir dari karakter wilayahnya: tanah pertanian yang subur, mudah ditanami palawija, padi, dan tanaman produktif lainnya. Tak heran jika sejak dulu, Karangsari dikenal sebagai wilayah agraris yang menjadi sumber pangan bagi warga sekitar.
Pada mulanya ada tiga dusun yang bersebelahan dalam satu area. Tiga dusun itu Gedongan Kidul, Kulonpojok, dan Karangsari. Seiring berkembangnya zaman membuat tiga dusun ini melebur menjadi satu dalam nama Padukuhan
Karangsari. Administrasi masyarakat di tiga dusun diseragamkan menjadi Padukuhan Karangsari. Hal ini dilakukan dengan tujuan mempermudah administrasi masyarakat. Pemilihan nama Karangsari sebagai nama padukuhan diyakini berdasar kepada lokasi tempat tinggal kedua dukuh awal Karangsari. Keduanya tinggal di Dusun Karangsari. Meskipun secara usia, Dusun Gedongan Kidul diyakini lebih tua daripada usia Dusun Karangsari, mengingat Gedongan Kidul pernah menjadi salah satu penamaan kelurahan lama di masa pemerintahan Belanda.
29) Malangrejo
Nama Malangrejo merupakan gabungan dua kata. Malang dan rejo. Secara harafiah, malang bermakna melintang. Rejo bermakna makmur, sejahtera, atau dalam konteks sosial, rejo sering dikaitkan dengan kehidupan yang harmonis dan penuh keberkahan. Malangrejo memang berawal dari “sesuatu yang melintang”. Namun, cerita berikutnya mungkin tidak akan pernah bisa dikonfirmasi. Apalagi, jika pendekatannya menggunakan ilmu modern. Di kampung itu ada jalan yang membentang dari Sono menuju Nglarang. Nah, jalan itu dilintasi “jalan lain” yang
tidak kasat mata. Warga setempat dulu menyebutnya sebagai jalan makhluk halus.
Jalan tak kasat mata itu tidak sejajar dengan jalan duniawi, yang memang digunakan warga untuk melintas. Namun jalan itu, yang melewati cungkup dan umbul, melintasi jalan warga. Titik lintasan itu yang kemudian sekarang disebut Malangrejo. Sedangkan “rejo”, ditambahkan di belakang kata “malang”, dengan harapan sekalipun di wilayah itu ada “sesuatu” yang melintang, tetapi bumi setempat diharapkan dapat memberikan kemakmuran bagi masyarakat yang menempati.
Versi lain menyebutkan Malangrejo artinya apik (baik), dan rejo artinya urip (hidup). Secara keseluruhan, Malangrejo bermakna mereka yang tinggal di wilayah itu hidupnya bakal baik, sejahtera. Nama Malangrejo menyiratkan gegadangan atau harapan tentang papan sing reja yang bisa menghidupi masyarakatnya. Dalam Kamus Jawa Kuna – Indonesia, kata “malang”, merujuk pada malanghya atau alanghya yang berarti tak terkalahkan, tidak dapat dicapai, tidak dapat dilanggar atau diganggu. Kata reja atau areja, arja, aharja, berarti cantik, tampan, indah, menarik, disusun dengan baik, cocok, laras. Bila dua kata itu digabungkan menjadi “malangrejo”, dapat bermakna sekalipun tempat itu “tak dapat diganggu”, tetapi diharapkan menjadi tempat yang indah dan cocok untuk tempat tinggal dan dapat memberikan penghidupan bagi yang menempati
30) Nglarang
Banyak orang menyebutnya dengan nama Mbah Tomerto. Ia dianggap sebagai cikal bakal kampung Nglarang. Setidaknya, karena ia adalah orang pertama yang dimakamkan di tempat itu, yang kini menjadi komplek makam yang cukup besar. Pada awalnya, sebelum makam dilebarkan, makam Mbah Tomerto persis berada di tengah komplek makam. Seiring zaman, makam Mbah Tomerto dilengkapi cungkup. Dalam tradisi Jawa, makam tokoh yang dihormati, diberi rumah kecil (cungkup) untuk melindungi makam dari hujan dan panas. Di dalam cungkup
terdapat dua nisan kuno dari kayu. Sayangnya, nisan itu tidak bernama, tetapi masyarakat meyakini salah satu di antaranya adalah makam Mbah Tomerto. Dua makam kayu tersebut memiliki bentuk maejan yang berbeda. Salah satu makam memiliki puncak maejan berbentuk meruncing. Makam lainnya memiliki puncak makam yang membulat dan terbelah di tengahnya.
Ada kisah yang turun temurun diceritakan yaitu kisah tentang tongkat sakti asal usul Dusun Nglarang, mungkin peristiwa terjadi pada awal tahun 1800-an. Setidaknya pada abad ke-19. Seorang laki-laki yang tinggal di pojok desa
kedatangan tamu yang sudah agak tua. Tamu itu datang seorang diri, membawa teken (tongkat kayu, alat bantu jalan). Setelah berbincang agak lama, laki-laki itu meminta maaf kepada sang tamu karena tidak memiliki air untuk membuat minum. Laki-laki itu mengaku belum sempat mengambil air di mata air (belik) kecil di sungai, di sebelah barat kampungnya, yang berjarak sekitar 1 km. Sang tamu maklum. Ia lalu mengajak laki-laki itu mengikuti dirinya. Perjalanan waktu itu cukup jauh. Sang tamu baru mengajak laki-laki itu beristirahat ketika sampai di hutan pinus. Sambil beristirahat, sang tamu menancapkan tongkat yang dibawa ke tanah dekat pohon pinus. Mereka lalu memakan bekal yang dibawa sang tamu, berupa ketupat dan sayur. Selesai bersantap, sang tamu meminta laki-laki
itu pulang. Kemudian, tamu itu mengambil tongkat yang ditancapkan. Laki-laki itu kaget, dari bekas tongkat tertancap keluar air yang deras mengalir. Air itu kemudian menggenangi tempat itu dan menjadi umbul. “Banyu iki isa tekan dusunmu. Olehku mlaku tekan kene iki merga dusunmu larang banyu. Mula, saiki dusunmu takparingi jeneng, ‘Larang’, merga larang banyu,” kata tamu itu. Dari nama Larang, seiring bergulirnya waktu, masyarakat lalu menyebutnya dengan nama, Nglarang. Tamu tersebut diyakini adalah Sunan Kalijaga yang tengah melakukan pengembaraan. Memang, sampai sekarang pun, sumur yang digali warga Nglarang memiliki kedalaman 12-16 meter. Boleh jadi, zaman abad ke-19, sumber air bisa lebih dalam. Aliran air dari Umbul Pajangan kemudian mampu mengubah kehidupan warga kampung Nglarang.
31) Talangrejo
Kampung yang sekarang bernama Talangrejo semula bernama Bakalan. Bakalan bermula dari kata bebakal. Bakalan atau Bebakal itu artinya cikal bakal. Bebakal juga bisa berarti seorang kuli kenceng atau kuli tlosor. Seiring waktu
sebagian warga merasa nama Bakalan terkesan kurang pas. Warga lalu berembug untuk menentukan nama yang baru. Karena kampung terdekat adalah Malangrejo, mereka lalu bersepakat memilih nama Talangrejo, sebagai
pengganti nama Bakalan. Sebagian warga lantas membuat tafsir, Talangrejo adalah ‘penghubung’ antara Malangrejo dengan Nglarang. Talang, dalam bahasa Jawa bermakna tempat air mengalir dalam bangunan rumah bergaya arsitektur Jawa, rumah kampung. Sebelumnya kampung Bakalan terbagi menjadi dua wilayah, yaitu Bakalan Kulon dan Bakalan Wetan. Bakalan Wetan yang jadi RT 004 dan Bakalan Kulon yang jadi RT 003 dusun Talangrejo. Barangkali, nama Talangredjo yang mungkin sudah ada sejak abad ke-19, sempat terputus tidak dikisahkan oleh satu generasi ke generasi berikutnya secara utuh. Akibatnya, orang-orang sekarang hanya sebatas menafsir dan menebak.
32) Sono Malangrejo
Zaman dahulu, Dusun Sono Blotan dan Dusun Sono Malangrejo adalah suatu kesatuan. Sebelum ada penduduk, kedua dusun itu masih berupa tegalan. Kemudian, perlahan mulai dihuni oleh penduduk. Yang pertama kali dihuni
adalah wilayah sebelah utara yang kini menjadi Dusun Solo Blotan. Setelah itu, barulah wilayah selatan yang sekarang menjadi Dusun Sono Malangrejo dihuni oleh penduduk. Jadi, dapat disimpulkan bahwa usia Dusun Sono Malangrejo lebih muda daripada Dusun Sono Blotan. Hal itu dapat dibuktikan dengan adanya rumah-rumah yang ada di Dusun Sono Malangrejo. Baik di jalan besar maupun di dalam gang, bentuk rumah-rumah di sana jauh lebih modern dibandingkan dengan rumah-rumah di dusun lain. Tidak ada rumah batu atau rumah kayu kuno. Tidak ada juga makam kuno karena leluhur yang meninggal biasanya dimakamkan di pemakaman dusun lain misalnya, Dusun Jetis. Hubungan antara Sono Malangrejo dan Sono Blotan sangat kuat karena ada warga yang sanak saudaranya masih berkutat di antara kedua dusun itu. Yang memisahkan mereka hanyalah pembagian administrasi padukuhan.
Nama Sono kemungkinan dikaitkan dengan nama pohon yang dahulu tumbuh di daerah itu, yaitu pohon Sonokeling. Ada tiga pohon yang dahulu tumbuh di tegalan sebelum berdirinya Dusun Sono, yaitu pohon sonokeling, pohon jambu biji, dan pohon jambu mete. Akan tetapi, ketiga pohon tersebut saat ini malah tidak atau jarang ditemukan di Dusun Sono Malangrejo.
33) Sanggrahan
Nama “Sanggrahan” tak asing bagi masyarakat Jawa. Berbagai tempat, termasuk situs candi, menyandang nama ini. Secara etimologis, “sanggrahan” berasal dari kata dasar sanggrah yang berarti “singgah”, ditambah akhiran –an, sehingga berarti “tempat singgah”. Dalam konteks budaya Jawa, istilah ini sering dikaitkan dengan lokasi peristirahatan rombongan kerajaan dalam perjalanan dinasnya. Di Dusun Sanggrahan, nama ini diyakini berakar dari kisah rakyat yang diwariskan turun-temurun. Pada masa Mataram Islam (abad ke-16 hingga 17), seorang ratu pernah melakukan perjalanan ke wilayah ini. Sang ratu memutuskan untuk beristirahat sejenak dan memerintahkan rombongan serta warga setempat membangun tempat singgah sementara. Tempat inilah yang dikenal sebagai pesanggrahan dan menjadi cikal bakal nama dusun: Sanggrahan.
Meski tak ada bukti fisik tersisa dari bangunan tersebut, masyarakat percaya kuat pada kisah ini. Mungkin dulu bangunannya dari kayu atau bambu, sehingga cepat rusak oleh cuaca. Bahkan jika dibangun dari batu bata, masih ada kemungkinan hancur akibat bencana alam. Dusun ini memang berada tak jauh dari Gunung Merapi, menjadikannya rentan terhadap erupsi, gempa bumi, atau banjir.
34) Karangasem
Wilayah yang kini dikenal sebagai Dusun Karangasem awalnya belum merupakan daerah permukiman. Kawasan ini masih berupa alas atau hutan alami yang dipenuhi pohon-pohon asem (asam Jawa) berukuran besar dan rindang. Pohon-pohon asem tersebut tumbuh liar dalam jumlah banyak sehingga menjadi ciri khas alam wilayah ini pada masa lampau. Bahkan, menurut warga, orang tua mereka masih sempat menyaksikan langsung keberadaan pohon-
pohon asem tersebut.
Dalam bahasa Jawa, kata “karang” berarti pekarangan atau lahan, sedangkan “asem” merujuk pada pohon asam, yakni pohon buah yang memiliki rasa asam khas dan biasa digunakan sebagai bumbu masakan maupun bahan pengobatan tradisional. Berdasarkan ciri khas itulah, wilayah ini kemudian dikenal dengan nama Karangasem, yang secara harfiah berarti “pekarangan tempat tumbuhnya pohon asem”. Pohon asam terakhir yang masih berdiri kokoh ditebang sekitar tahun 2020. Keputusan ini diambil karena pohon tersebut sudah berusia sangat tua dan berukuran besar, sehingga dikhawatirkan dapat tumbang saat hujan deras atau angin kencang menerpa. Pohon itu tumbuh tidak jauh dari permukiman warga sehingga keberadaannya dinilai berisiko terhadap keselamatan. Hingga kini, sisa-sisa batang kayu dari pohon tersebut masih terlihat tergeletak di pekarangan salah satu rumah warga. Ada pula sebuah istilah yang tidak asing didengar oleh masyarakat Karangasem, yaitu Desa Sabuk Sloko. Arti “sabuk sloko” berasal dari kata sabuk dan sloko. Kata “sabuk“ menurut Bahasa Jawa berarti “sebuah pengikat”. Sedangkan kata
“sloko” berasal dari Bahasa Sansekerta yang diartikan “nasihat” dan “ajaran bijak”. Kemudian dari dua kata tersebut digabungkan menjadi “desa sabuk sloko” yang artinya “warga yang hidup dalam satu irama, saling gotong royong,
menjaga kerukunan dan melestarikan adat dan tradisi leluhur yang terjaga dengan baik”.
35) Kregan
Hingga kini memang belum ditemukan bukti tertulis tentang asal nama “Kregan”. Namun menurut cerita lisan, dusun ini bermula dari pasangan suami istri bernama Kyai dan Nyai Wudel. Keduanya dikenal sebagai tokoh pembuka lahan atau babat alas di wilayah ini. Warga meyakini bahwa Mbah Wudel merupakan leluhur dan tokoh pertama yang tinggal dan membangun kehidupan di wilayah Kregan. Makam Mbah Wudel pada awalnya berada di area pemakaman dusun. Sayangnya, karena nisan yang terbuat dari kayu tidak awet dan kurangnya perawatan, kini tidak lagi dikenali letaknya secara pasti.
Secara bahasa, “Kregan” dalam Bahasa Jawa erat kaitannya dengan aktivitas gotong royong atau kerja bakti. Kata ini kerap digunakan untuk menyebut kegiatan kolektif masyarakat dalam memperbaiki fasilitas umum, seperti jalan, selokan, atau tempat ibadah. Kemungkinan besar, nama “Kregan” lahir dari semangat kebersamaan yang telah tumbuh sejak masa awal pemukiman oleh Mbah Wudel dan diwariskan secara sosial hingga kini. Semangat kolektif inilah yang menjadikan warga Kregan tetap solid dan guyub di tengah perubahan zaman.
36) Tegalsari
Sekitar akhir abad ke-19, sejumlah lelaki direkrut oleh pemerintah Hindia Belanda untuk membuka hutan dan membangun saluran irigasi juga dam di wilayah lereng Gunung Merapi, sisi tenggara. Setiap minggu, mereka kerja bakti tanpa bayaran. Kalau tidak berangkat, mereka kena denda. Setiap orang yang bekerja sebagai kuli baku mendapat ganjaran berupa tanah di daerah yang kemudian dinamakan Tegalsari dengan luasan yang bervariasi. Di sela-sela waktu bekerja sebagai kuli, mereka melakukan babat alas, membersihkan dan mengolah tanah yang menjadi bagiannya untuk diolah sebagai tegalan dan ditanami dengan berbagai tanaman, seperti jambu mete, jambu kluthuk, kelapa, nanas, gadung, nangka dan sebagainya. Mereka juga membendung kali, untuk mengolah tanah menjadi sawah. Penyebutan nama Tegalsari karena dulunya masih berupa tanah tegalan dan pekarangan yang dipenuhi beragam pepohonan. Setelah dibabat dan digarap, didirikan sebuah perkampungan kecil bernama Tegalsari. Dinamai Tegalsari karena berupa tegalan yang diharapkan menjadi sumber panguripan.
37) Tegalrejo
Dalam cerita asal usul dusun Tegalrejo, bermula dari Sumpah Mbah Ulu Ulu. Masyarakat waktu itu sangat menghormati dan sungkan kepada Mbah Ulu Ulu. Karena selain sesepuh di dusun tersebut ternyata dia juga memiliki kesaktian yang dikenal dengan Sumpah Mbah Ulu Ulu. Sebelumnya wilayah berupa tegalan gersang, warga kesulitan untuk menanam pohon yang bias dijadikan sumber makanan. Namun mereka tidak pasrah begitu saja. Masyarakat mencari berbagai cara agar tanah gersang itu bias diolah dan menjadi sumber penghidupan. Termasuk Mbah Ulu Ulu yang mau turun tangan dan kerja keras. Berbekal “kepercayaan” kala itu, mereka memohon kepada nenek moyang untuk diberi petunjuk agar bias memecahkan kesulitan masyarakat. Hingga suatu hari ketika masyarakat di dusun tersebut berkumpul dan berbincang di salah satu rumah setelah acara kenduri, Mbah Ulu Ulu bersumpah bahwa dusun ini akan makmur (rejo).
Dengan berbekal keyakinan, Mbah Ulu Ulu mulai fokus mencari cara agar masyarakatnya dapat menghasilkan bahan makanan sendiri dari tanah yang mereka tempati. Waktu itu belum bias digunakan untuk lahan pertanian. Tanah tegalan dusun dikelilingi pohon bambu, nangka, serut dan pandan. Hanya nangka yang bias dimakan. Dengan kerja keras bersama, tidak kenal lelah, pada akhirnya Mbah Ulu Ulu dan masyarakat dusun tersebut bisa menciptakan area persawahan diwilayah tegalan terebut. Setelah permasalahan satu satu mulai terpecahkan, tidak disangka permasalahan lain muncul dengan tidak adanya aliran air. Masyarakat hanya mengandalkan air hujan untuk mengairi sawah mereka.
Mbah Ulu Ulu merasa bertanggungjawab atas wilayahnya. Dia lalu mengambil langkah agar bisa mendapatkan air untuk mengairi persawahan dusunnya. Dengan menelusuri air dari Dusun Tonggalan di sebelah utara, dan dari Dusun Kabunan di sebelah timur, dibuatlah saluran air agar sampai sampai ke dusunnya. Dengan penuh keyakinan Mbah Ulu Ulu mengupayakan saluran air itu. Sebab jika ada air pasti akan aka ada kehidupan. Tanah tegalan yang semula tandus bias ditanami. Dengan begitu kemakmuran yang dicita-citakan bias terwujud. Seiring berjalannya waktu, setelah Mbah Ulu Ulu dan masyakat berupaya begitu kerasnya untuk memakmurkan dusun tersebut, akhirnya masyarakat mulai menjalani kehidupan baru dengan bercocok tanam. Masyarakat bisa mengasilkan bahan makanan dari lahan sawah mereka sendiri. Mulai saat itu masyarakat dusun tersebut berterimakasih banyak kepada Mbah Ulu Ulu dan selalu percaya apa yang di ucapakan beliau akan menjadi kenyataan. Sehingga dusun tersebut oleh Mbah Ulu Ulu dan masyarakat yakni Tegalrejo, yang memiliki arti secara harfiah dari kata “Tegal” artinya lahan
tandus/ kering dengan berupa tanah maupun kerikil dan kata “Rejo” artinya Makmur.
38) Bendungan
Dahulu kampung Bendungan itu dikelilingi beberapa sungai. Ada sungai kecil di tengah kampung, juga ada yang sungai di sebelah timur dan barat kampung. Warga baru mengetahui bahwa kampungnya dulu bekas bendungan ketika suatu hari ada orang yang akan membuat sumur. Waktu menggali sumur, ternyata ditemukan kayu berdiameter besar yang rubuh, juga rumpun bambu yang melintang di kedalaman 3 meter. Sejak saat itu masyakat percaya bahwa dahulu tempat tinggal mereka merupakan bendungan yang sangat besar. Dari lokasi ditemukannya pohon besar di dalam tanah, sebelah barat kampung Bendungan ternyata bernama Tambakrejo. Antara bendungan dan tambak, keduanya masih berkaitan. Sehingga masyarakat percaya bahwa dahulu kampung Bendungan memang merupakan bendungan besar. Agar air tidak luber kemana-mana maka masyarakat menambaki dengan batang pohon-pohon besar. Tambak dari kayu itu terkubur hingga bertahun-tahun.
Ada kisah lain tentang dusun Bendungan, yaitu kisah Mbah Koro. Menurut cerita orang Jawa zaman dahulu banyak yang memiliki kesaktian atau daya linuwih. Memiliki ilmu yang menjadikannya dikenal sebagai orang yang sakti kala itu. Sebut saja Mbah Koro. Dia dahulu sangat di segani oleh masykarakat di kampungnya. Tidak ada yang tahu dari mana asalnya. Akan tetapi dia sangat disegani dan ditakuti oleh masyarakat di kampungnya. Kampung tersebut
menjadi kuat, dalam arti ketika ada warga yang berkelahi pasti lawannya akan kalah. Kampung tersebut jadi terkenal dan ditakuti oleh banyak orang. Tidak tahu menahu kekuatan dari mana, sehingga kampung tersebut ditakuti oleh
masyarakat dari kampung lain. Hal itu terjadi sejak Mbah Koro tinggal di kampung itu. Sejak saat itulah masyarakat percaya adanya kekuatan dan kesaktian yang di berikan Mbah Koro ke kampung tersebut.
Ketika meninggalnya Mbah Koro, masyakarat mulai membuat petilasan berupa makam tidak jauh dari gubuk tempat tinggal Mbah Koro. Sebagai tanda hormat,dan untuk mengenang almarhum. Karena banyak orang yang ingin sekedar berkunjung, mohon perantara doa, punya keinginan bahkan ada yang minta agar diberikan kekuatan jasmani dan rohani. Mereka percaya semua keinginan dan permohonan itu dikabulkan Tuhan dengan perantara Mbah Koro. Makam tersebut dikeramatkan oleh masyarakat, dibuat secara khusus menggunakan kayu jati dengan bentuk susun tujuh, baru di atasnya diberi batu nisan. Pada tahun 2011 karena makam tersebut sudah tidak ada yang merawat lalu diputuskan untuk dibongkar dan dibakar. Tidak ada yang tersisa dari tapak tilas Mbah Koro.
39) Blotan
Nama Blotan memiliki dua versi asal-usul yang hidup dalam masyarakat. Versi Pertama: Syekh Bela Belu, yang sebelumnya dikenal sebagai Raden Jaka Bandem—putra Raja Majapahit terakhir, Brawijaya V. Setelah keruntuhan
Majapahit akibat ekspansi Kesultanan Demak, Jaka Bandem melarikan diri bersama pengikutnya dan menetap di Parangtritis. Dalam perjalanan syiar Islamnya, ia sempat singgah di Blotan dan melaksanakan salat di atas batu
besar di Sungai Buntung. Saat itu belum ada masjid ataupun musala. Syekh Bela Belu juga menyampaikan seruan agar rakyat tidak tunduk kepada penjajah Belanda. Dari situlah muncul kata mbelot (tidak tunduk), yang berkembang menjadi mbelotan, dan akhirnya dikenal sebagai Blotan. Batu tempat Syekh Bela Belu salat masih ada hingga kini, berada di bawah jembatan Sungai Buntung. Konon, batu itu tak bisa dihancurkan ataupun digeser meski menggunakan alat berat atau bantuan orang pintar. Akhirnya batu tersebut dijadikan pondasi jembatan, yang tetap kokoh walau berkali-kali diterjang banjir. Versi Kedua: Tanaman Gembolo dan Ketan, menyebut bahwa kata Blotan
berasal dari gabungan kata bolo (tanaman gembolo) dan tan (ketan). Dahulu, wilayah ini hanya dihuni oleh empat kepala keluarga: Kasan Repangi, Ronokariyo, Sokariyo, dan Kasan Muhammad. Tanaman liar banyak tumbuh di
wilayah tegalan Blotan, termasuk gembolo, gembili, talas, uwi, ubi, dan gadung. Tanaman gembolo (Dioscorea bulbifera), yang tumbuh merambat dan berduri, sangat melimpah. Umbinya legit dan memiliki rasa menyerupai ketan. Karena itu muncul nama Blotan dari kata bolo dan tan.
40) Sono Blotan
Dusun yang dulu dikenal dengan nama Sono Pule Rejondani ini pernah menjadi saksi bisu bagaimana tanah tegalan tanpa sawah disulap menjadi perkebunan tebu demi kepentingan penjajah. Ketika Belanda menancapkan kuku tanam paksa dan memaksa warga mengabdi tanpa upah, masyarakat Sono Blotan tetap berdiri. Mereka menanam rami, menimba air dari saluran riol buatan kolonial, dan mengangkat jambu ceper sebagai kebanggaan kampung. Di sini, kerasnya tanah justru melahirkan keteguhan dan dari keterbatasan, tumbuh kekuatan yang tak mudah ditumbangkan.
Kisah tentang asal usul nama Sono merupakan hasil dari kerata basa (sebuah frasa untuk menjelaskan arti sebuah kata dengan akronim), yaitu dari kata Meso Ono. Sebuah pemahaman yang diyakini para pendahulu, Bahwa kata Meso Ono adalah sebuah ungkapan rasa syukur atas pemberian dari Yang Maha Kuasa, meskipun tidak banyak tetapi selalu tersedia. Kemudian dari kata meso ono tersebut diringkas menjadi Satu kata yaitu Sono dari pemenggalan So (meso) dan No (ono ).
Dusun Sono Blotan pernah dikenal dengan nama Sono Pule Rejondani. Karena di tengah kampung dulunya ada pohon Pule yang sangat besar yang berada di pekarangan warga. Arti Rejondani sendiri merupakan ungkapan doa agar masyarakat Sono mendapatkan kesejahteraan dan kebahagiaan. Tapi sepertinya nama itu kurang melekat di hati warga sehingga terlupakan. Dan sekarang Dusun Sono secara adminitrasi tercatat dengan nama Dusun Sono Blotan. Dusun Sono yang merupakan Bagian dari Padukuhan Blotan.
41) Kayen
Nama “Kayen” menyimpan misteri yang belum terpecahkan hingga kini. Nama Kayen sudah digunakan, namun tidak diketahui asal-usulnya. Pada masa itu, wilayah Kayen masih sepi, ditumbuhi pohon-pohon besar, dan salah satu bangunan yang sudah berdiri adalah Gereja Kayen yang masih berdinding gedheg (anyaman bambu).
42) Jetis
Asal mula nama Dusun Jetis berhubungan erat dengan masa perjuangan Pangeran Diponegoro beserta pengikutnya melawan VOC. Pertempuran yang sengit antara Pangeran Diponegoro dengan penjajah dengan cara bergerilya
membuat Prajurit Pangeran Diponegoro akhirnya tersebar di mana-mana. Mereka kemudian Bersembunyi dan membuat markas- markas di berbagai tempat. Salah satu markas Prajurit tersebut berada di sekitar Umbul Pajangan
yang masuk wilayah Dusun Saren, Wedomartani.
Saat itu wilayah Jetis dan sekitarnya masih berupa hutan lebat dan liar. Lebatnya hutan digunakan pengikut Pangeran Diponegoro untuk bersembunyi dan menghimpun kekuatan tetapi karena begitu lebat dan liarnya hutan, membuat prajurit sering tersesat dan sulit menemukan markas persembunyian mereka sendiri. Untuk ini mereka sepakat membuat tanda khusus yang hanya diketahui lingkungan keprajuritan saja. Tanda tersebut ditorehkan di pohon-pohon besar ataupun Bebatuan. Pembuatan tanda tersebut menggunakan Enjet ( kapur sirih) yang biasanya digunakan oleh orangtua jaman dulu untuk nginang (nyirih).
Prajurit Pangeran Diponegoro memberi tanda di beberapa tempat memakai enjet tetapi ternyata adonan enjet yang mereka pakai terlalu kental dan menyerupai pasta. Ketika mereka sampai diwilayah Dusun Jetis, enjet yang mereka bawa tinggal sedikit, padahal masih banyak tempat yang belum ditandai. Kemudian mereka menambahkan air pada sisa enjet tersebut tetapi ternyata hasilnya kurang bagus dan menetes karena terlalu cair. Kemudian dari kata enjet dan netes , tersebutlah nama Jetes. Yang bisa diartikan enjet yang menetes. Dan kemudian dalam berkembangnya dalam pengucapannya kata tes jadi tis dan sekarang dikenal dengan Jetis.
43) Gebang
Dahulu di sepanjang Sungai Buntung tumbuh pohon-pohon besar seperti bambu, gayam, dan pohon menyerupai palem yang tinggi dengan daun lebar seperti kipas. Tanaman itu dikenal dengan nama pohon gebang. Jumlahnya yang sangat banyak menjadikan tanaman ini sebagai penanda khas dusun. Maka kemudian wilayah ini dikenal sebagai Dusun Gebang. Sayangnya, keberadaan pohon gebang tidak dilestarikan. Warga menganggapnya tidak bermanfaat secara ekonomi maupun konsumsi. Akibatnya, pohon-pohon gebang ditebang dan diganti dengan tanaman sukun dan singkong yang dianggap lebih produktif. Padahal, pohon gebang memiliki banyak manfaat dari daun, batang, buah, biji hingga niranya. Bahkan, dahulu daunnya digunakan sebagai bahan penulisan naskah kuno, menggantikan daun lontar.
Selain penamaan dusun, terdapat kisat tentang tokoh bernama Kyai Jebug. Dahulu seorang pengembara datang dan tinggal di wilayah ini hingga akhir hayatnya, lalu dimakamkan di dusun ini. Sosok itu dikenal sebagai Kyai Jebug yang konon sangat sakti. Setelah wafat, pohon yang dahannya menjulur di atas makamnya akan mengering. Pada masa penjajahan, kuda tentara Belanda yang melintasi makam disebut akan terjungkal. Kyai Jebug bukanlah pendiri Dusun Gebang, melainkan orang pertama yang dimakamkan setelah dusun ini bernama Gebang. Lokasi makamnya hingga kini tidak diketahui secara pasti. Ada yang menyebut di sisi selatan, ada pula yang di tengah kompleks makam. Sebagian warga bahkan menyebut cerita tentang Kyai Jebug hanyalah mitos.
44) Karanganyar
Wilayah ini dulunya adalah “ngoro-oro” padang rumput luas yang tandus. Saat itu, Karanganyar sangat sepi, ditumbuhi semak belukar dan pohon besar. Baru ada sekitar tujuh orang penghuni, antara lain: Mbah Ali, Mbah Joyo Dimah, Mbah Mul Kusen, Mbah Amat Leas, Mbah Amad Dasuki, Mbah Ali Rejo, Mbah Bongso, dan Mbah Jaffar. Nama “Karanganyar” sudah digunakan saat beliau pertama kali tiba, namun hingga kini belum ditemukan informasi pasti tentang asal-usulnya. Para keturunan tokoh awal pun umumnya tidak mengetahui makna atau sejarah nama tersebut. Meski demikian, dari padang liar yang kosong, kini Karanganyar telah menjadi permukiman yang ramai dan penuh kehidupan.
45) Sambirejo
Dahulu Sambirejo adalah sebuah daerah yang masih sepi berupa hutan yang banyak ditumbuhi pohon dan ilalang. Masa itu sekitar tahun 1930-an dan Yogyakarta masih berada dalam kekuasaan Hindia Belanda. Di masa itu, belum
ada orang yang menempati daerah tersebut karena lokasinya yang penuh dengan rumput liar dan pohon-pohon besar. Karena sering terjadinya konflik di Yogyakarta, membuat banyak pejuang yang melarikan diri ke daerah utara,
termasuk ke wilayah Sambirejo ini. Para pejuang tersebut mencari daerah yang aman untuk berlindung dan menyelamatkan keluarganya. Ada beberapa nama yang menjadi cikal bakal munculnya Dusun Sambirejo yaitu Mbah Asma Diro dan Mbah Mbedjo, Mbah So Pawiro atau Mbah Jaga, Mbah Parmidi, Mbah Rokidi dan Mbah Solikin (Mbah Imam Rejo), Mbah Ambyah dan Mbah Duljabir ( Ahmad Dimejo).
Para sesepuh yang tersebut di atas adalah warga dari luar daerah yang karena kondisi peperangan membuat mereka harus mencari tempat yang aman untuk keluarganya. Saat ada waktu luang, para leluhur tersebut secara bersama-sama melakukan babad alas atau membuka daerah baru dengan cara membersihkan hutan yang penuh dengan pohon-pohon dan rumput liar. Kegiatan babad alas tersebut tidak dilakukan secara sekaligus tapi dilakukan saat mereka sedang tidak berperang. Atau istilah Bahasa Jawa-nya di”sambi” atau dilakukan saat mereka sedang tidak berperang atau saat melakukan aktifitas yang lainnya. Setelah daerahnya bersih dari pohon-pohon dan rumput liar kemudian dibangunlah pemukiman untuk tempat tinggal. Mereka juga mengerjakan lahan untuk bercocok tanam. Lama kelamaan daerah tersebut menjadi subur, apapun yang ditanam bisa tumbuh dengan baik.
Kegiatan tersebut berlangsung selama beberapa tahun sehingga pada akhirnya ke-8 orang tersebut memutuskan untuk menetap di wilayah tersebut. Merekalah cikal bakal yang memulai penghidupan di daerah tersebut. Pada saat itu walaupun mereka sudah menetap tapi suasana daerahnya masih sepi dan terpencil. Belum banyak orang yang datang ke daerah tersebut karena lokasinya yang jauh dari pusat kota Yogyakarta. Secara perlahan-lahan seiring dengan berjalannya waktu, daerah yang tadinya penuh dengan pohon dan rumput liar itu menjadi daerah yang ramai. Karena ramai, maka banyak orang-orang yang datang ke daerah tersebut untuk menetap dan berkeluarga sehingga lama kelamaan menjadi daerah yang ramai dan banyak penduduknya. Daerah tersebut menjadi daerah yang ramai atau Bahasa Jawa-nya “ Rejo “. Dan karena awal terbentuknya dengan di”Sambi”, maka orang menyebutnya daerah “Sambirejo”. Dan dipakailah nama tersebut sampai sekarang menjadi dusun Sambirejo.
46) Gupitsari
Gupitsari ada setelah Tegalsari ada. Meski demikian, Gupitsari tidak pernahberdiri menjadi dusun sendiri, seperti Tegalsari, tetangganya. Sejak dulu, Gupitsari menjadi bagian dari dusun Kayen. Jika melihat dari namanya, secara
harfiah Gupit artinya kejepit. Gupitsari berarti wilayah yang kejepit sungai. Wilayah Gupitsari tampak berbentuk persegi berukuran kecil. Empat sisinya nyaris sama panjang. Alur sungai yang memanjang dari utara ke selatan,
membelah wilayah Gupitsari menjadi dua bagian, nyaris sama besar. Dahulunya, Gupitsari berupa tanah tegalan. Sedangkan tanah tegalan ditanami dengan berbagai tanaman, seperti kelapa, sukun, jambu kluthuk, jambu mete dan
nangka. Martodiyono, orang terpandang pada zamannya yang merupakan warga Tegalsari, kemudian membeli tanah di Gupitsari dan mendirikan rumah pertama di Gupitsari. Pembelian tanah pada zaman Belanda dilakukan dengan sistem lelang.
47) Ceper
Asal-usul penamaan Dusun Ceper erat hubungannya dengan banyaknya pohon jambu yang tumbuh dan berbuah lebat pada masa lalu. Bukan sembarang jambu, buah jambu ini sangat istimewa. Umumnya buah jambu banyak bijinya, namun buah jambu di sini sangat sedikit bijinya sehingga lebih banyak dagingnya (ndaging) dan berkasiat untuk menyembuhkan penyakit/lara. Selain ditumbuhi pohon-pohon jambu, di situ juga banyak hewan, yaitu kijang dan rusa. Disebutkan kala itu Sultan Hamengku BuwonoVIII (1921-1939) kesehatan tubuhnya terganggu (sakit). Usaha agar pulih sehat dengan membawa Sultan tersebut ke Rumah Sakit Onder de Bogen yang kini dengan nama Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta, namun tidak kunjung sembuh.
Suatu malam Ngarsa Dalem bermimpi sakitnya akan sembuh apabila makan buah jambu kluthuk yang bijinya sedikit. Para Abdi disuruh mencari sampai menemukan buah tersebut. Setelah melalui perjuangan panjang, akhirnya ditemukanlah jauh tempatnya di sebelah utara Kraton Yogyakarta. Abdi yang berhasil menemukan tersebut memersembahkan buah jambu kepada Ngarsa Dalem dengan menggunakan cawan atau lemper. Buah jambu diletakkan di atas lemper kemudian dibungkus dengan kain warna putih dan ujung kain dipertemukan lalu diikat posisi di bagian tengah agar bisa dijinjing (cangking) seimbang. Apa yang terjadi setelah mengonsumsi jambu kluthuk itu? Berangsur-angsur Ngarsa Dalem sembuh dari sakitnya, kembali waras-wiris kaya wingi uni. Sebagai apresiasi dan pengingat, Ngarsa Dalem memberi nama sesuai bentuk lemper yang ceper, yakni Dusun Ceper.
48) Karangmojo
Dahulu di daerah ini banyak ditumbuhi pohon mojo di sepanjang sungai dan di pinggir-pinggir jalan sehingga orang yang mula-mula mukim di daerah ini menamainya Orang yang pertama kali menempati dusun ini adalah Kasan Mustohal. Kasan Mustohal mempunyai anak Wongso Rejo, Wongso Rejo mempunyai anak Harjo Nawi (Cucunya Kasan Mustohal). Dari Harjo Nawi mempunyai anak (Buyutnya Kasan Mustohal), yaitu Ahmad Kasidi, Juminah, Paijo, Samilah, Walidi Badri Maryoto, dan Parjiyah. Kala itu di tempat ini banyak ditumbuhi pohon mojo dengan buahnya yang lebat. Pohon mojo tidak hanya tumbuh subur di sepanjang sungai dan jalan-jalan dusun tetapi juga di kebon-kebon. Tidak ada yang menanam, itu tumbuh dengan sendirinya. Buah mojo yang jatuh dan lama-kelamaan kering terbang bersama angin atau terbawa arus air hujan sehingga di mana-mana tumbuh pohon mojo. Melihat fenomena ini, Mbah Buyut Kasan Mustohal memberi tetenger Dusun Karangmojo.
49) Krandon
Asal-usul Krandon tidak dapat dilepaskan dari tokoh utama bernama Kyai Rogo Leksono. Beliau merupakan putra dari tokoh penting bernama Pekik Ibrahim, yang lebih dikenal sebagai Pangeran Samber Nyowo. Kyai Rogo Leksono
berasal dari Dekso, Degan, wilayah Kulonprogo. Dalam perjalanan hidupnya, beliau melakukan pengembaraan dan akhirnya singgah di suatu alas atau hutan yang kelak menjadi cikal bakal Kampung Krandon. Bersama istrinya, Kyai Rogo Leksono menetap dan melahirkan keturunan pertama di tempat tersebut. Meski pada akhir hayatnya beliau kembali ke tanah kelahirannya dan dimakamkan di sana, anak cucunya tetap memilih menetap di wilayah baru ini dan melanjutkan kehidupan di sana.
Kyai Rogo Leksono memiliki seorang putra bernama Kyai Suto Drono, yang kemudian memiliki dua anak: Suto Dikromo dan Suto Taruno. Dari kedua garis keturunan inilah populasi awal Kampung Krandon berkembang. Dari Suto Dikromo, lahirlah keturunan seperti Suto Nadi, Suto Wiryo, dan Suto Rejo yang menetap di Krandon, sedangkan Suto Diarjo tinggal di Beji, Pakem. Sementara itu, keturunan Suto Taruno yang juga bermukim di Krandon mencakup nama-nama seperti Suto Karyo, H. Sholeh, Mangun Wirono, Joyo Taruno, dan H.Irsyad. Adapun keturunan lainnya seperti Mangun Rejo menetap di Beji Pakem, Suto Wirono di Krajan Wedomartani, dan H. Sidiq di Gentan Sinduharjo. Dari silsilah ini terlihat betapa erat hubungan kekeluargaan di kampung tersebut,
karena sebagian besar warganya adalah keturunan langsung dari dua tokoh tersebut. Selain keturunan asli, ada pula dua tokoh pendatang yaitu Kyai Amat Ngarit dan Kyai Amat Rais yang ikut menetap di wilayah ini. Meskipun mereka tidak berasal dari satu garis keturunan dengan warga lainnya, nilai-nilai Islam yang mereka anut menyatukan mereka dalam semangat persaudaraan. Prinsip “al muslim akhul muslim” (sesama Muslim adalah saudara) menjadikan mereka diterima dengan tangan terbuka. Mereka bahkan berinisiatif menyebut kampung
ini sebagai “Krandah”, yang dalam bahasa Jawa berarti “sak sedulur” atau satu saudara. Seiring waktu, sebutan ini mengalami perubahan pelafalan menjadi Krandon, nama yang hingga kini tetap digunakan.
50) Nglinggan
Nama “Nglinggan” diyakini berasal dari gabungan awalan “ng-“, kata dasar “lingga”, dan akhiran “-an”. Gabungan itu membentuk makna sebagai tempat di mana terdapat suatu benda atau dilakukan sesuatu terhadap “lingga”. Simbol suci yang dalam tradisi Hindu melambangkan kekuatan penciptaan dan keagungan Dewa Siwa. Keyakinan ini diperkuat dengan ditemukannya sebuah artefak lingga di tengah dusun Nglinggan. Benda tersebut berupa potongan batu regol berukir lainnya yang diyakini bagian dari struktur kuno berupa “regol”. Regol adalah pintu gerbang tradisional dalam budaya Jawa, yang memiliki fungsi praktis dan simbolis sebagai penghubung antara ruang luar dan ruang dalam. kemungkinan bahwa potongan batu regol berukir dan artefak berupa “lingga” yang ditemukan di sekitar dusun berasal dari Candi Kalingga. Sebuah candi yang diduga terkubur akibat letusan Gunung Merapi.
Cerita ini diperkuat oleh peninggalan sebuah buku kuno yang ditulis oleh Bapak Harjo Supatmo dalam aksara Jawa Sansekerta. Buku tersebut memuat kisah sejarah Candi Kalingga dan kaitannya dengan Dusun Nglinggan. Kini, buku
berharga tersebut telah diserahkan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sleman. Sayangnya akses terhadap isi buku masih terbatas karena kendala bahasa dan aksara. Dugaan pun muncul, jika dilakukan penggalian di sekitar
lokasi penemuan, sangat mungkin akan terungkap keberadaan sebuah candi yang terkubur. Selain dari sisi letak, Dusun Nglinggan juga menyimpan daya tarik tersendiri. Secara historis dan spiritual, dusun ini dikelilingi oleh situs-situs candi Hindu bersejarah seperti Candi Kimpulan, Candi Gebang, dan Candi Sambisari. Keberadaan candi-candi tersebut membentuk semacam lingkaran budaya dan spiritual, yang memperkuat dugaan bahwa kawasan Nglinggan pernah menjadi bagian penting dari peradaban Mataram Hindu.
Kejayaan dusun ini ada sebelum tahun 1970. Saat itu, Nglinggan di sebelah barat jalan terkenal sebagai penghasil batu bata yang unik. Tidak seperti batu bata lainnya yang berwarna merah, batu bata yang dihasilkan dari tanah lumpur di dusun ini memiliki warna gelap, berkat tekstur tanahnya yang mirip dengan tanah liat. Batu bata tersebut menjadi komoditas yang banyak dicari, namun seiring berjalannya waktu, permintaan pasar mulai menurun setelah tahun 1970. Seiring berkurangnya peminat, profesi pengrajin batu bata pun hilang.
51) Terung
Dahulunya, Adipati Terung, sosok penjaga dusun, pemimpin yang adil, dan sumber karisma spiritual memilih tinggal membaur bersama masyarakat. Ia hidup bersahaja di tengah rakyat, merasakan denyut kehidupan mereka, dan menjaga ketenteraman kampung yang kelak dikenal sebagai Dusun Terung. Dari cerita yang diwariskan secara lisan inilah nama Terung kemudian digunakan untuk menamai dusun tempat sang adipati menetap. Setiap tanggal 20 bulan Jawa, warga mengadakan tahlilan rutin yang disebut Ambengan. Acara ini dipimpin oleh rois atau tokoh agama dan ditujukan sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur, termasuk Adipati Terung. Selain itu,
sebagian warga secara rutin melakukan ziarah ke makam Adipati Terung yang berada di Demak Bintoro. Ziarah ini menjadi bukti kuat kepercayaan masyarakat bahwa tokoh tersebut benar-benar pernah tinggal dan berjasa besar di Dusun Terung.
Salah satu peninggalan penting yang juga menyimpan cerita mistis dan historis adalah jembatan tua yang berada di barat dusun, dikenal dengan nama Kretek Donggleng. Jembatan ini membentang di atas Sungai Gayam Kridon dan
dulunya dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda, menggunakan rel bekas lori pengangkut tebu. Kretek ini dinamakan Donggleng karena bunyi khas “donggleng-donggleng” dari lori yang melintasinya, suara yang bisa terdengar dari kejauhan, bahkan hingga ke dusun-dusun sekitar. Uniknya, jembatan ini pernah rusak atau gempal di bagian selatan barat (kulon kidul), tetapi secara aneh kerusakan itu bisa pulih kembali. Setelah masa kemerdekaan, jembatan ini diganti oleh masyarakat Terung dengan bahan sederhana seperti bambu (nam-naman), gedek, bata merah, dan gamping. Meski dibuat dengan peralatan dan material terbatas, kekuatan jembatan sangat menakjubkan. Pernah ketika jalan menuju dusun hendak diaspal dan alat berat seperti stum (roller aspal) akan masuk, ia sempat khawatir jembatan tidak akan kuat. Namun sopir alat berat meyakinkan bahwa jembatan akan mampu dilalui. Benar saja, alat berat itu melintasi Kretek Donggleng tanpa membuatnya ambruk. Bagi masyarakat, ini adalah salah satu bukti nyata bahwa ada kekuatan luar biasa yang menjaga infrastruktur dusun, bahkan dari zaman kolonial.
52) Krapyak
Di balik tenangnya kampung Krapyak hari ini, tersimpan riwayat panjang tentang keberanian, spiritualitas, dan semangat perlawanan terhadap penjajah. Tempat ini bukan sekadar dusun biasa, tetapi bekas medan perjuangan yang dirintis oleh para tokoh yang tak hanya mengangkat senjata, tapi juga mengajarkan ilmu dan nilai. Jejak mereka dimulai dari seorang pejuang ulama bernama Kyai Sentono, sosok pemberani yang menempuh perjalanan jauh dari Gunung Pring Watu Congol, Muntilan, Magelang Jawa Tengah, demi satu cita: menantang penjajahan dan membangun masyarakat berbasis ilmu dan iman. Pengembaraannya terhenti di sebuah wilayah yang saat itu masih berupa hutan belantara, maka tinggalah dan membangun sebuah padepokan. Dari padepokan tersebut maka mulai muncul pengikut dari masyarkat sekitar antara lain Wongsoreja, Kasan Muhammad dan Amat Raji. Karena padepokan berada di tengah hutan yang banyak tumbuh tanaman pakis, maka terkenalah padepokan tersebut dengan nama Padepokan Karang Pakis.
Kemudian masyarakat sekitarpun menyebutnya wilayah tersebut sebagai padukuhan Karang Pakis. Di tempat tersebut Kyai Sentono banyak mengajarkan pada pengikutnya ilmu kanuragan untuk bekal melawan penjajah Belanda, disamping juga mengajarkan ilmu agama. Berita keberadaan Kyai Sentono serta karakter dan cita-citanya yang kuat untuk melawan Belanda tersebut didengar oleh Sultan Ngayogyakarta Hadingingrat yang dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku Buwono ke VI (1855-1877 M). Karena keberaniannya Kyai Sentono diangkat menjadi Demang di Karang Pakis dengan gelar Demang Nantang Yodho yang artinya “Penantang Perang”, sesuai dengan karakternya yang suka menentang perang penjajah Belanda. Sebagai seorang muslim yang taat, Demang Nantang Yudho ingin membawa wilayah Karang Pakis pada karakter wilayah yang sesuai dengan cita-cita gurunya yakni sebuah kampung yang ayem, tentrem, gemah, ripah, loh jinawi baldatun thoyibatun warobun ghofur. Dari situ Ki Demang bertafa’ul pada gurunya Kyai Krapyak III, dan oleh sebab itu wilayah yang sebelumnya dikenal sebagai nama Karang Pakis maka diubahnya dengan nama Padukuhan Krapyak, yang mengambil nama gurunya yang tinggal di Gunung Pring, Watu Congol, Muntilan, Magelang. Demang Nantang Yodho, sampai akhir hayatnya tidak beristeri dan tidak dikaruniai anak.
53) Bakungan
Nama Bakungan dipakai karena di wilayah tersebut banyak tanaman bakung. Hampir di seluruh bagian warga masyarakat ada tanaman bakung. Mereka memiliki keyakinan, bahwa tanaman bakung mempunyai manfaat dalam kehidupan mereka, terutama dalam pengobatan tradisional. Menurut mereka, daun tanaman bakung dapat digunakan untuk meredakan bengkak, luka dan rasa nyeri, serta membantu penyembuhan patah tulang dan terkilir. Namun sebagai catatan sejarah, tanaman bakung waktu itu juga untuk tanda pembatas irigasi. Dulunya terdiri dari tiga kampung, yaitu Bakungan, Babarjo dan Purwodadi. Di ketiga kampung tersebut, tanaman bakung yang paling banyak ada di Bakungan. Sementara yang ada di Babarjo dan Purwodadi, karena keterbatasan wilayah, hasil tanaman bakung itu dikirim ke Bakungan. Di Bakungan sendiri ada kisah seorang tokoh Islam atau seorang kyai datang ke Bakungan bernama Ali Ibrahim atau Ali Atmorogo. Beliau tidak diketahui dari mana asalnya, tetapi ada sumber yang menyebutkan, Kyai Ali Ibrahim itu dari pusat agama di Keraton Ngayogyakrta Hadiningrat, yaitu Kauman. Dia memberikan nasihat, petuah yang sifatnya bisa melindungi dan mengayomi warga masyarakat Bakungan dan sekitarnya, agar selamat dari penindasan penjajah Belanda. Sejak penjajahan Belanda sampai tahun 1968 dia berada di Masjid Bakungan sampai meninggal pada tahun 1968. Jenazahnya ada di Makam Muslim 1 Bakungan. Untuk mengenang jasa Mbah Ali Ibrahim, nama Jalan Bakungan yang sekarang ini ada, dulu namanya Jalan Kyai Ali brahim.
54) Krajan
Tidak ada cerita rakyat atau legenda khusus yang berkaitan dengan nama dusuni. Yang ada hanya cerita jaman perjuangan melawan Belanda. Dulu di pinggiran atau tepi sungai Sembung, yang berada di sebelah timur Padukuhan
Krajan, ketika dilakukan pengerukan untuk pemerataan tanah, ditemukan dua buah batu nisan yang di atasnya berdiri sebuah batu. Diduga ada nama Krajan atau kerajaan kecil. Tetapi itu pun belum bisa dipertanggungjawabkan.
Ada pula salah satu kisah pada masa perjuangan jaman Belanda sekitar tahun 1927, dimana Krajan menjadi salah satu markas Tentara Indonesia. Di Krajan dahulu ada tempat persembunyian dalam gerakan melawan penjajah Belanda. Perlawanan dengan Belanda berlangsung sengit, sampai Tentara Belanda membakar markas. Tetapi dalam kenyataannya mereka yang dibakar tidak mati, justru yang mengherankan Belanda, pasukan yang ada di markas menghilang dan tidak ada bekas pembakaran. Hal ini mendasari penyebutan Pasukan Samber Gelap, karena pasukan Tentara Indonesia yang ada di Krajan yang dibakar Belanda itu menghilang dan keadaan menjadi gelap. Bahkan orang- orang yang tergabung dalam Pasukan Samber Gelap itu mempunyai Aji-Aji Lemut, bisa menghilang dengan tiba-tiba dan tidak bisa dicari dan diketemukan. Aji-aji inilah juga bisa sebagai tameng menghadapi penjajah Belanda. Sehingga Belanda sempat kesulitan menghadapi Pasukan Samber Gelap.
Dusun Mancasan Krajan pun sama halnya tidak ada sumber informasi pasti tentang asal usul namanya. Jika Mancasan-Kleben yang berada di wilayah Kalurahan Pandowoharjo berasal dari nama Kyai Pancas yang merupakan orang pertama yang tinggal di dusun tersebut untuk melakukan dakwah agama Islam, Choiriyanto menyebutkan bahwa tidak ada keterkaitan sejarah tersebut pada penamaan wilayah di Mancasan-Krajan yang ada di Kalurahan Wedomartani.