Kyai Muhdi merupaka putra ketujuh dari pasangan dua orang ahli ilmu dan ahli
ibadah yaitu KH.Hasan Tafsir bin KH.Hasan Qonawi Ny.Mushlihah binti Abdurrohman/Mbah dan Mbah Tanjung
Simbah Kyai yang silsilahnya kalau di tarik ke atas sampai ke Kyai Nur Iman Mlangi & Sri Sultan Hamengkubuwono Pertama. Kyai Muhdi lahir th 1892 di Dusun Krapyak Lor Wedomartani. Semenjak kecil beliau dididik oleh ayah beliau sendiri, KH. Hasan Tafsir yang mana adalah seorang Mursyid Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, salah satu Kholifah dari Syech Abdul Karim As-Sambasiy, Pendiri Thoriqo Qodiriyah wa Naqsyabandiyah Wilayah
Yogyakarta. Menginjak dewasa sekitar tahun 1906 umur 14 tahun Kyai Muhdi menuntut ilmu ke Muntilan berguru kepada Mbah KH. Abdurrohman (Ayah dari KH.Dalhar Watucongol, Muntilan, Magelang) kemudian melanjutkan ke Jamsaren Solo dengan gurunya KH. Zamahsyari. Sekitar tahun 1912 saat beliau berusia 20 tahun, KH Muhdi pergi beribadah haji sekalian belajar di Makkah dan menetap di tanah suci selama 7 tahun. Pada Tahun 1919 KH. Muhdi pulang dari Makkah – di pulangkan oleh Pemerintah Saudi karena terjadi perebutan kekuasaan di Arab. Pada tahun 1949 terjadi Agresi Belanda ke-II, saat Agresi Belanda ll sebelum Kh Muhdi wafat, beliau memberikan ijazah doa-doa, hizib-hizib termasuk nyuwuk bambu runcing yang akan di gunakan oleh para Hizbulloh (Pasukan Perang)
untuk melawan Belanda. Pada tanggal 4 Maret 1949 M bertepatan tanggal 12 Maulud KH Muhdi wafat di tembak Belanda. Kiai Haji Muhdi Sleman Yogyakarta juga memiliki karomah sebagai kiai sakti. Tongkat Kiai Muhdi dapat dipakai untuk menahan serangan senjata pasukan Belanda. Dikisahkan, tongkat yang sudah diisinya dengan suwuk atau asma bisa digunakan untuk memukul tank-tank Belanda dari jarak jauh, sehingga tank-tank Belanda mengalami kerusakan. (HM. Sholeh Hayat, dkk. Peranan Ulama Dalam Perjuangan Kemerdekaan. Hlm.124) Sampai saat ini, Pondok Pesantren Al-Muhdi yang didirikan oleh KH. Muhdi masih berdiri dan diteruskan oleh keturunannya. Makam beliau juga sering dikunjungi oleh peziarah baik masyarakat sekitar maupun diluar Yogyakarta.